Movie

Into the Spider-Verse Review: Lebih Keren dari Versi MCU

Into the Spider-Verse

Sayaajarkan – Setelah beberapa kali gagal, Sony Pictures berhasil membuat para fans Spider-Man tersenyum lewat film ‘Spider-Man: Into the Spider-Verse’.

Disutradarai Bob Persichetti, Peter Ramsey, dan Rodney Rothman, Spider-Man: Into the Spider-Verse memilih berhenti untuk mengulang cerita bagaimana Peter Parker mendapatkan kekuatan laba-labanya.

Sebagai gantinya, film dalam bentuk animasi ini menghadirkan sosok Miles Morales yang merupakan generasi terbaru dari komik Spider-Man.

Tokoh Miles Morales sendiri tercipta di tahun 2011 dari tangan Brian Michael Bendis dan Sara Pichelli. Konon ia terinspirasi Mantan presiden Amerika Serikat, Barrack Obama dan rapper Donald Glover.

Kerennya, di film layar lebar pertamanya ini, kita akan melihat bagaimana sosok Miles Morales bertemu dengan berbagai versi Spider-Man dari dimensi yang berbeda. Mulai dari Peter Parker, sampai seekor babi yang dikenal dengan nama Spider-Ham.

Dari kiri: Gwen Stacy, Spider-Ham, Miles Morales, Peter Parker, dan Spider-Man Noir. Credit photo: Sony Pictures.

Sinopsis Spider-Man: Into the Spider-Verse

Spider-Man: Into the Spider-Verse bercerita mengenai anak sekolah bernama Miles Morales yang mendapat kekuatan super setelah tergigit oleh laba-laba di sebuah lorong bawah tanah.

Ia kemudian bertemu dengan Spider-Man dan menyadari bahwa dunia-nya sedang terancam oleh penjahat bernama Kingpin yang berniat mengubek-ubek dimensi lain demi obsesi pribadinya.

Aksi Kingpin dan komplotannya ini secara tidak sengaja membuat para Spider-Man dari dimensi lain terperangkap di dunia Morales. Mereka lantas memutuskan bersatu untuk menggagalkan rencana Kingpin.

Liev Schreiber sebagai pengisi suara Kingpin. Credit Photo: Inverse.com

Cerita yang Fresh dan Mengharukan

Sony Pictures nampaknya telah banyak belajar dari Marvel Cinematic Universe (MCU) perihal bagaimana cara menyajikan cerita Spider-Man.

Lega rasanya mereka memilih beranjak dan fokus kepada Miles Morales ketimbang kembali menceritakan bagaimana Peter Parker mendapatkan kekuatannya, lengkap dengan tewasnya paman Ben.

Hal ini secara tak langsung membuat ceritanya menjadi fresh. Keputusan untuk memvisualisasikan kisah ini dalam bentuk animasi juga terasa sangat tepat dan cocok. Terutama di bagian laga-nya.

Tak hanya Miles Morales, karakterisasi Peter Parker dan beberapa Spider-Man dari dimensi lain berada dalam porsi yang pas. Gambaran Peter Parker di film ini bahkan bisa dibilang sebagai yang terbaik setelah Spider-Man (2002) dan Spider-Man: Homecoming (2017).

Penggambaran Peter Parker di ‘Spider-Man Into the Spider-Verse’. Credit photo: Screenrant

Overall, Into the Spider-Verse adalah versi paling fresh yang pernah dibuat setelah Homecoming. Naskah yang tertata dengan baik, laga apik serta sisi drama yang mengena membuat film ini jadi menyenangkan sekaligus mengharukan untuk ditonton.

Jadi jangan sampai dilewatkan.

“Spider-Man: Into the Spider-Verse might be the best Spider-Man film ever made.” Barry Hertz, Globe and Mail

“It was one of the best cinematic experiences I’ve had in 2018.” Martin Thomas, Double Toasted

Click to comment
To Top