Movie

Dilan 1991 Review: Lebih Bagus dari 1990?

Dilan 1991

Sayajarkan – Kalau generasi terdahulu pernah terbuai oleh ‘Gita Cinta dari SMA’ (1970) atau ‘Ada Apa dengan Cinta?’ (2002), maka era ini adalah ranahnya Dilan & Milea.

Hadir setahun setelah film pertamanya rilis, ‘Dilan 1991’ kembali menyuguhkan gambaran betapa kuatnya seni sastra dalam kehidupan asmara. Mulai dari rayuan, hingga puisi-puisi yang membuat Milea (dan mungkin para penontonnya) tersipu malu.

Sinopsis Dilan 1991

Disutradarai oleh Fajar Bustomi, film ini melanjutkan kisah anak SMA Dilan (Iqbaal Ramadhan), seorang panglima geng motor di Bandung yang berpacaran dengan Milea (Vanesha Prescilla), murid pindahan Jakarta.

Sepasang kekasih yang di film pertama tengah mesra-mesranya, kini akan dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa tidak semua cinta bisa berjalan mulus. Proklamasi cinta yang diucapkan keduanya pun berada di ujung tanduk setelah berbagai konflik datang ke kehidupan mereka.

Ungguli Kualitas Film Pertamanya

Dibanding dengan film pertamanya, ‘Dilan 1991’ hadir dengan kualitas yang jauh lebih menyenangkan untuk ditonton, baik itu dalam hal visual maupun akting para pemainnya. Porsi komedi yang cukup besar menjadi pembeda yang lumayan kontras. Begitu juga dengan keberadaan konflik yang lebih serius dan membuat film ini jadi tak sedatar film pertamanya.

Salah satu adegan di film garapan Fajar Bustomi ini.

Sayang, di luar pendalaman karakter serta chemistry tokoh utamanya yang baik, plot yang terasa melompat-lompat lumayan mengganggu kenikmatan dalam menonton film ini.

Beberapa atribut seperti wig juga mengurangi kesan real dari setting 90-an yang ditampilkan.

Untungnya, sisi emosionalnya yang tergarap dengan tepat sasaran membuat film ini mampu memberikan efek yang sama seperti membaca bukunya. Dan overall, sebagai sekuel dari film yang sudah ditonton oleh lebih dari 6 juta penonton, ‘Dilan 1991’ jauh dari kata mengecewakan.

Oh ya, saat menonton film ini di bioskop, jangan buru-buru beranjak saat filmnya usai. Ada adegan post-credit yang sayang untuk dilewatkan.

Click to comment
To Top