Movie

Meneropong Nasib Tom Holland dan Spider-Man di MCU

Tom Holand sebagai Spider-Man. Credit photo: Den of geek

Sayaajarkan – Sudah nonton aksi Tom Holland di film Spider-Man: Far from Home? Puas-puasin, deh nontonnya. Sebab, bisa jadi peran Holland sebagai si manusia laba-laba bakal berakhir.

Holland dikontrak untuk bermain sebagai Peter Parker alias Spider-Man di enam film. Tiga film solo, serta tiga film bareng superhero lain di Marvel Cinematic Universe (MCU).

Nasib Tom Holland

Sejauh ini, Holland sudah dikontrak main tiga film bareng superhero lain, yakni Captain America Civil War (2016), Avengers: Infinity War (2018), dan Avengers: Endgame (2019). Sedangkan film solonya baru dua, Spider-Man: Homecoming (2017) dan Spider-Man: Far from Home yang sedang tayang di bioskop. Artinya, jatah mainnya tinggal satu film solo lagi.

Hingga kini, belum ada kabar apa kontrak Holland berlanjut. Padahal Far from Home meraup pendapatan menjanjikan selama enam hari tayang di AS. Meraup sekitar USD 182 juta, mengalahkan Spider-Man: Homecoming yang mengumpulkan USD 154,1 juta di periode sama.

Bila secara finansial Holland sukses memerankan Spider-Man, kenapa sulit mengontraknya untuk main lagi jadi Spidey?

Aksinya di Spider-Man bikin banyak penonton jatuh hati.
Aksinya di Spider-Man bikin banyak penonton jatuh hati.

Hak Film Spider-Man

Pangkal soalnya adalah hak memfilmkan sang Spider-Man. Hak tersebut berada di tangan Sony Pictures, sementara itu MCU berada di bawah bendera Marvel Studios milik Disney.

Sony sudah memegang hak memfilmkan Spider-Man tiga puluh tahun lalu, 1999. Mereka kemudian membuat tiga film Spider-Man bersama Sam Raimi dengan bintang Tobey Maguire dari 2002 sampai 2007. Pendapatannya hampir USD 1 miliar. Lalu, cerita Spider-Man itu di-reboot ulang lewat The Amazing Spider-Man yang dibintangi Andrew Garfield. Sayang, film ini hanya bertahan dua seri. Sony kecewa dan tak melanjutkan seri itu.

Ketika Disney membeli Marvel Studio senilai USD 4 miliar tahun 2009, deretan superhero komik Marvel yang paling tenar haknya sudah dilepas ke studio lain. Selain si manusia laba-laba berada di tangan Sony, X-Men dan Fantastic Four berikut semua jagoan dan musuh-musuhnya ada di bawah ketiak 20th Century Fox.

Di masa itu, Fox sudah menelurkan beberapa film superhero dari komik Marvel yang rata-rata sukses. Yang tersisa buat Marvel Studio tinggal Hulk, Captain America, Thor dan deretan superhero yang umumnya hanya dikenal kaum geek pecinta komik. Namun kita tahu, berkat resep jenius produser Kevin Feige yang menempatkan superhero Marvel dalam sebuah jagat raya bersama bernama MCU, setiap rilisan film Marvel selalu jadi hit. Karena ceritanya berkesinambungan. Nonton Avengers takkan seru tanpa nonton film-film sebelumnya.

Maka, berkat film-film MCU semua orang kini kenal dengan Guardians of the Galaxy, Ant-Man, Black Panther atau Captain Marvel.

Syahdan, Marvel Studio butuh Spider-Man untuk kekuatan cerita mereka agar sejalan dengan cerita di komik. Sementara itu, Sony juga ogah melepas properti mereka yang paling menguntungkan ini meski seri kedua The Amazing Spider-Man gagal.

Jalan tengahnya, Spider-Man boleh bergabung di jagat MCU milik Marvel Studio, asalkan film solonya, yang juga bagian dari cerita MCU, hak distribusinya tetap di tangan Sony. Pendapatan Civil War dan dua film Avengers terakhir masuk ke kocek Disney, sedangkan dua film solo Spider-Man yang dibintangi Tom Holland jadi hak Sony.

Venom dan Into the Spider-Verse, dua keberhasilan terbaru Sony di jagat Spider-Man. Credit photo: Comicbook.com
Venom dan Into the Spider-Verse, dua keberhasilan terbaru Sony di jagat Spider-Man. Credit photo: Comicbook.com

Jagat Sinema Spider-Man Sony

Buat Sony memang lebih gampang menyerahkan Spider-Man-nya Tom Holland ke jagat MCU sepenuhnya. Di tangan kreatif orang-orang Marvel Studio, Spider-Man seperti menemukan bentuknya yang pas. Mereka tinggal santai membaca skenario bikinan Marvel, menyetujuinya, dan menyerahkan semua urusan kreatif pada yang lebih jago.

Akan tetapi, soalnya tak sesederhana itu. Tempo hari, Sony merilis film Spider-Man lain Spider-Man: Into the Spider-verse (2018). Formatnya animasi. Film itu sukses mengumpulkan USD 375 juta dari seluruh dunia dan dapat pujian selangit, termasuk oleh juri Oscar. Semesta Spider-Man versi animasi ini dipastikan berlanjut.

Di lain pihak, Sony juga merilis film solo Venom (2018) yang aslinya musuh Spider-Man. Dibintangi Tom Hardy, film tersebut jadi pertaruhan Sony apa mereka bisa mengembangkan semesta Spider-Man tanpa campur tangan Marvel Studio. Nyatanya bisa. Venom meraup pendapatan USD 855 juta dari seluruh dunia.

Sukses Venom bikin Sony percaya diri mengangkat tokoh lain dari jagat Spider-Man untuk dibikin film solo. Tahun depan kita bakal disuguhi Morbius yang dibintangi Jared Leto.

Pertanyaan yang mengemuka lalu, adakah Spider-Man di jagat film solo Venom dan Morbius? Bila iya, siapa yang jadi Spider-Man di sana? Apakah Tom Holland? Jika Holland, apa itu artinya mereka berada di semesta yang sama dengan MCU milik Marvel/Disney?

Bila tidak pun pertanyaan lain muncul: Apa kelak Sony akan merilis film live-action Spider-Man baru yang berada di luar jagat MCU?

Sampai kini yang tersisa hanya segudang pertanyaan yang belum terjawab. Marvel Studio bisa saja mendepak Spider-Man dari jagat MCU. Sekarang, menyusul kesepakatan merger Disney dengan Fox, X-Men dan Fantastic Four sah-sah saja nongol di jagat MCU.

Duh, tapi kita sudah telanjur jatuh hati pada Tom Holland sebagai Spider-Man. Masak kesempatan menontonnya beraksi hanya tersisa satu kali lagi. Sayang banget… (Ahmad Haidar/dari berbagai sumber)

Click to comment
To Top