Music

NOAH: Membedah Album Keterkaitan Keterikatan

NOAH - Keterkaitan Keterikatan

Sayaajarkan – Seperti seharusnya, band asal Bandung NOAH –dahulu bernama Peterpan– resmi merilis album kedua yang diberi tajuk Keterkaitan Keterikatan. Molornya proses pembuatan album hingga dua tahun lebih, membuat banyak sahabat NOAH bertanya-tanya.

Seperti apa karya-karya baru NOAH? Masihkah ada sisa Peterpan yang berserakan di sana, atau murni memantapkan arah baru yang sudah diperlihatkan mereka sejak album pertama (Seperti Seharusnya), ‘Second Chance’, hingga ‘Sings Legends’.

Album kedua NOAH - Keterkaitan Keterikatan (Sayaajarkan/Feby Ferdian)
Album kedua NOAH – Keterkaitan Keterikatan (Sayaajarkan/Feby Ferdian)

Untuk menjawabnya, Sayaajarkan memutuskan untuk membeli albumnya. Mari kita ‘bedah’ satu-satu mulai dari kemasan fisiknya, hingga lagu-lagunya.

Kemasan Fisik Album NOAH, Keterkaitan Keterikatan

Di album ini, NOAH kembali memilih memakai kemasan fisik yang minimalis tanpa casing mika. Covernya terlihat begitu artistik dan menyiratkan makna yang cukup dalam.

Kalau menurut sang vokalis, Ariel, judul albumnya memang menggambarkan keberadaan NOAH yang selalu terikat dan terkait dengan orang-orang di sekelilingnya, termasuk para fans. Apa yang diungkapkan oleh Ariel terilustrasikan dengan baik oleh lambang NOAH yang dibuat dari jeratan tali. Cool!

Sampul album kedua NOAH yang didominasi warna merah. (Sayaajarkan/Feby Ferdian)
Sampul album kedua NOAH yang didominasi warna merah. (Sayaajarkan/Feby Ferdian)

Di bagian dalamnya, dominasi warna merah nampak elegan,termasuk di cakram padat-nya. Cover NOAH kali ini mungkin adalah yang terbaik setelah ‘Suara Lainnya’ yang rilis di tahun 2012, tepatnya ketika mereka belum berubah nama.

Lagu-lagu di Album Keterkaitan Keterikatan

Setelah sedikit membahas kemasannya, sekarang waktunya untuk mendengarkan karya-karya terbarunya.

Single ‘Wanitaku’ ciptaan Ariel yang tampil sebagai lagu pembuka sukses mencuri perhatian dengan komposisi lagunya yang unik. Begitu juga dengan lagu ‘Kau Udara Bagiku’ yang mengingatkan kita akan identitas musik Peterpan di era ‘Hari yang Cerah’.

Buat yang rindu dengan lagu NOAH berbahasa asing, puaskan dahaga itu lewat ‘My Situation’ dan ‘Moshimo Mata Itsuka’ (Mungkin Nanti). Yang satu energik dengan nuansa rock, satunya mendayu nyaman dalam versi akustik.

Di luar empat lagu di atas, sang keyboardist, David, menyumbang dua karya terbaru yakni ‘Kupeluk Hatimu’ dan ‘Menemaniku’.

Dalam dua lagu ini, ‘magic-nya’ David kembali bekerja selayaknya apa yang pernah ia tunjukkan di lagu ‘Separuh Aku’ dan ‘Tak Lagi Sama’. Perlu diamini rasanya ucapan Ariel yang pernah menyebut David sebagai missing link.

Tak kalah dengan David, sang gitaris, Lukman juga sukses membuat decak kagum lewat dua karyanya di album ini yang berjudul ‘Jalani Mimpi’ dan ‘Mencari Cinta’.

Perpaduan musik Lukman dan lirik yang ditulis Ariel dan Mohammad Istiqamah Djamad (Pusakata) membuat lagu ‘Mencari Cinta’ terasa begitu kelam namun begitu magical. Sebuah atmosfir yang sering kita rasakan saat menonton film thriller.

Terakhir, sebagai pencipta musik, Ariel terbukti masih bisa membuat karya bagus. Lagu bernuansa alternatif bertajuk ‘Mendekati Lugu’ adalah jawaban bagi orang-orang yang sempat meragukan kemampuannya usai Peterpan ganti nama.

Overall, kesemua lagu di album ini tampil dengan kualitas prima. Semuanya dikemas secara jenius oleh sang gitaris, Uki sebagai (mungkin) sumbangsih terakhirnya di NOAH.

Sungguh album yang menarik.

Click to comment
To Top