Health

Indera Penciuman Buruk Mengindikasikan Risiko Kematian?

kaitan indera penciuman dengan kesehatan. Credit photo: howstuffworks.com

Sayaajarkan – Benarkah ketajaman indera penciuman berhubungan dengan risiko kematian seseorang? Walaupun hal ini tidak diutarakan secara pasti oleh beberapa ahli, tetapi ada beberapa survei statistik yang menunjukan keterikatan antara ketajaman hidung dengan usia seseorang. Penelitian juga rupanya sempat dilakukan meskipun tidak bisa menjadi patokan baku.

Kaitan Indera Penciuman Buruk dengan Kematian

Meneliti 2.200 orang di Amerika Serikat

Kembali ke soal penelitian di atas, sebuah penilitian pernah dilakukan kepada dua komunitas di Amerika Serikat dengan jumlah manusia 2.200 kepala. Orang-orang tersebut berusia di antara 71 hingga 82 tahun dan penelitiannya dilakukan selama 13 tahun.

Mereka semua diuji dengan menggunakan 12 aroma umum. Hasilnya adalah orang yang indera penciumannya buruk memiliki risiko kematian hampir 50% lebih tinggi. Jenis kelamin, ras, dan gaya hidup menunjukkan sedikit kontribusi pada angka ini.

Peneliti juga menyebutkan bahwa indera penciuman yang buruk adalah tanda awal bagi kondisi tubuh yang buruk. Hal ini berarti penting bagi kita untuk lebih peka terhadap kondisi indera penciuman. Di kemudian hari mungkin tes bau dapat digunakan untuk memprediksi timbulnya penyakit neurodegeneratif.

Ketika sedang santai, cobalah mengetes ketajaman penciuman kita. Credit photo: Go.com
Ketika sedang santai, cobalah mengetes ketajaman penciuman kita. Credit photo: Go.com

Dampak Indera Penciuman terhadap Risiko Kematian

Dinas Kesehatan Nasional Inggris (NHS) juga telah mengakui penelitian ini lewat tulisannya. Tetapi klaim bahwa uji indera penciuman rutin dapat digunakan untuk menemukan tanda-tanda demensia, atau penyakit dengan gejala-gejala yang mengakibatkan perubahan cara berpikir dan berinteraksi, kurang didukung oleh bukti yang disajikan. NHS berpendapat bahwa indera penciuman yang buruk mungkin memiliki dampak kecil pada resiko kematian secara keseluruhan.

Meskipun Parkinson atau demensia berdampak pada saraf penciuman, peneliti hanya bisa menjelaskan 22% dari hasil mereka menggunakan faktor-faktor neurodegeneratif. Para peneliti tidak siap untuk menjawab pertanyaan itu tanpa memeriksa kematian dini secara spesifik.

Menjadi Tambahan Pengetahuan

Overall, walaupun belum ada jawaban pasti mengenai kebenaran hubungan antara fungsi penciuman dan risiko kematian terhadap seseorang, hal ini dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi kita.

Hampir sama ketika kita menyadari adanya perubahan postur tubuh, tidak ada salahnya berhati-hati ketika hidung kita sudah mulai bereaksi tidak wajar atau sensitifitasnya sedikit menurun. Kita boleh melakukan tindakan antisipasi atas kemungkinan-kemungkinan berkaitan kesehatan tubuh.

Sumber:
– https://www.sciencealert.com/a-weird-link-between-sense-of-smell-and-risk-of-death-defies-explanation
– https://www.abc.net.au/radionational/programs/healthreport/deteriorating-sense-of-smell-risk-of-death/11129176

Click to comment
To Top