Info Feed

Napak Tilas Pertempuran 10 November 1945

Sayaajarkan – Pertempuran 10 November merupakan pertempuran antara rakyat surabaya melawan tentara Britania Raya dan India Britania. Pertempuran ini terjadi terjadi akibat imbas tewasnya seorang perwira Inggris yaitu Brigadir Jenderal Mallaby yang merupakan komandan Brigade 49 Divisi India dengan kekuatan 6.000 pasukan pada sebuah baku tembak tanggal 30 Oktober 1945 di Surabaya.

Adapun alasan tentara Inggris datang ke Indonesia adalah sebagai pemenang perang dunia II. Tujuan mereka adalah untuk melucuti tentara Jepang yang kalah perang sesuai isi perjanjian Yalta, juga menjalankan mandat untuk memulihkan apa yang disebut pihak sekutu dengan ‘ketertiban’ di Indonesia. Artinya mereka akan mengembalikan Indonesia kepada jajahan Belanda seperti pada era sebelum perang.

Tewasnya Mallaby

Peristiwa baku tembak 30 Oktober 1945 disinyalir kuat timbul karena kesalahpahaman. Dimana 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby memulai baku tembak karena tidak mengetahui adanya kesepakatan gencatan senjata sedang berlaku akibat terputusnya kontak dan telekomunikasi dengan Mallaby.

Mallaby sendiri sempat memerintahkan penghentian baku tembak. Namun dalam satu titik diskusi gencatan senjata, Mallaby justru kembali memerintahkan untuk memulai tembakan. Pertempuran tersebut berakhir dengan kematian Mallaby yang ditembak di dalam mobil. Ini adalah kali pertama seorang Jendral gugur di pertempuran dalam sejarah Inggris bertempur selama 5 tahun, baik melawan Jerman maupun Jepang

Mobil Tempat Mallaby Tewas Pada Pertempuran 30 Oktober 1945
Credit Photo: liputan6.com

Kematian Mallaby memicu kemarahan Inggris. Melalui pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Robert Mansergh, Inggris mengeluarkan ultimatum keras kepada Indonesia khususnya kota Surabaya melalui selebaran yang disebarkan dari pesawat-pesawat Inggris ke seluruh penjuru kota Surabaya pada Jumat 9 September 1945.

Ultimatum itu menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas, serta meletakkan senjatanya di tempat yang sudah ditentukan selambat-lambatnya pukul 6.00 pagi pada tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi Republik Indonesia yang pada waktu itu sudah berdiri dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di dalamnya kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang mendompleng pasukan Inggris

Di tengah situasi genting itu, Gubernur Jawa Timur Suryo berpidato di corong radio, meminta rakyat untuk bersabar dan menunggu keputusan dari pemerintah pusat di Jakarta. Karena ultimatum itu, ditunjukkan kepada republik Indonesia. Akan tetapi ternyata Jakarta menyerahkan keputusan kepada pemerintah daerah dan rakyat. Akhirnya, Gubernur Suryo kembali berpidato, dan meminta rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pertempuran 10 November

Kontak senjata pertama antara pejuang Surabaya dan tentara sekutu Inggris pada pertempuran 10 November terjadi di sekitaran Theater atau Bioskop Sampoerna dan Pabrik Rokok Liem Seeng Tee. Inggrispun menggempur Kota Surabaya habis-habisan dari darat, laut dan udara. Dari laut tembakan meriam-meriam kapal perang Inggris menyapu pesisir Surabaya, dan dari udara, kapal tempur Inggris terus menjatuhkan bom dan menyapu kota Surabaya dengan senapan mesin. Serangan ini berlangsung dari pagi sampai malam dan membuat ribuan rakyat tak berdosa ikut jadi korban.

Ilustrasi Pertempuran 10 November 1945
Credit Photo: riauaktual.com

Keesokan harinya, pasukan infanteri Inggris mulai merangsek maju dilindungi tank dan tembakan mortir. Mereka sesumbar bisa merebut Surabaya dalam waktu tiga hari. Namun kenyataannya pertempuran berlangsung sengit dari jalan ke jalan dan rumah ke rumah. Dari satu kubu pertahanan rakyat ke kubu lainnya yang memaksa pertempuran berlangsung lebih dari 28 hari. Rakyat Surabaya menerjang tank dengan senjata seadanya. Mereka tak takut mati. Sementara TKR dan laskar memberikan perlawanan lebih terorganisir. Seluruh elemen berjuang bersama. Tidak ada perbedaan golongan, tingkatan, agama, maupun paham. Perorangan tidak berlaku pada saat itu. Pemerintah, tentara, rakyat, melebur jadi satu. Tentara Inggris diperas habis-habisan. Inilah pertempuran terberat yang mereka rasakan. Sampai ada istilah neraka di Timur Jawa.

Ilustrasi Pertempuran 10 November 1945
Credit Photo: merdeka.com

Pada akhirnya pasukan Inggris memang berhasil memukul mundur pasukan Indonesia yang kalah dari segi persenjataan dan keahlian perang. Namun pertempuran tersebut memiliki arti penting bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Aksi melawan pasukan Inggris kemudian terjadi di mana-mana. Pertempuran besar pecah di Bojong Kokosan, Sukabumi, Jawa Barat tanggal 9 Desember 1945. 12-15 Desember Kolonel Soedirman memimpin pasukan mengalahkan tentara Inggris di Ambarawa. Begitu juga aksi Bandung Lautan Api tanggal 23 Maret 1946..

Inggrispun sadar, tak ada gunanya mereka terus berada di Indonesia. Mereka tak mau terus diperalat Belanda yang membonceng di belakang mereka dengan maksud menguasai kembali Indonesia. Tahun 1946, tentara Inggris terakhir meninggalkan Indonesia.

Besarnya jumlah rakyat yang gugur sebagai pahlawan tanpa nama pada pertempuran 10 November, maka kemudian pemerintah menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan sebagai benetuk penghormatan bagi mereka yang berjuang tanpa rasa takut mengorbankan jiwa dan raganya demi tegaknya kedaulatan Indonesia

Click to comment
To Top