Info Feed

Brigadir Jenderal Mallaby Perwira Andalan Inggris Yang Gugur Di Surabaya

Sayaajarkan – Aubertin Walter Shotern Mallaby atau biasa disingkat A.W.S Mallaby atau Brigadir Jenderal Mallaby, lahir pada 12 Desember 1899 dari pasangan William Calthorpe and Katharine Mary Francis Mallaby, Masa remaja Mallaby diakhiri dengan masuk ke sekolah kadet militer Inggris. Setelah belajar sebagai kadet di Welington Cadet Collage di India, Mallaby muda mulai berdinas dalam tentara Inggris-India dengan pangkat Letnan Dua pada 1 Oktober 1918.

Karier Kemiliteran

Sepanjang kariernya di kemiliteran, sebagai perwira Mallaby lebih banyak diandalkan sebagai perwira staf ketimbang menjadi komandan pasukan pertempuran. Dalam rangka penugasan, berkali-kali pangkatnya mengalami naik-turun. Sebagai perwira, dia pernah disekolahkan ke Camberley Staff College antara 1930 hingga 1931 dan menjadi perwira staf jenderal dengan pangkat kapten dan pangkatnya kemudian naik menjadi mayor penuh pada 1 Oktober 1936.

Brigadir Jenderal Mallaby (Kanan)
Credit Photo: timesindonesia.com

Setelah Perang Dunia Kedua pecah, Mallaby menjadi letnan kolonel pada 15 Agustus 1941, namun ia juga pernah mempunyai pangkat acting brigadir saat ia ditempatkan sebagai Deputi Direktur Operasi Militer di Kantor Urusan Perang hingga 1942.

Sebetulnya pangkat Mallaby sudah Mayor Jenderal. Namun karena memimpin brigade, pangkatnya kemudian turun menjadi brigadir, yaitu saat memimpin Brigade 49 Divisi India yang mendarat di Surabaya. Tampaknya, dalam militer Inggris, seorang perwira bisa naik turun pangkat sesuai jenis tugasnya.

Brigade yang dipimpin Mallaby memiliki kekuatan 6000 pasukan yang mayoritas terdiri dari orang-orang India, Pakistan, dan Nepal. Brigade 49 Divisi India merupakan bagian dari Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI), pasukan Sekutu yang dikirim ke Indonesia setelah selesainya Perang Dunia II untuk melucuti persenjataan tentara Jepang, membebaskan tawanan perang Jepang sesuai dengan isi Perjanjian Yalta, serta mengembalikan Indonesia kembali menjadi Hindia Belanda kekuasaan Belanda di bawah administrasi NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

Ilustrasi Kedatangan Pasukan Sekutu
Credit Photo: donisetyawan.com

Mallaby sendiri merupakan seorang pewira andalan Inggris di kancah Perang Dunia II. Ia kerap diposisikan sebagai operational officer (perwira operasional) di setiap medan pertempuran yang ia ikuti. Oleh sebab itu gugurnya Mallaby adalah sebuah kehilangan besar bagi pasukan Inggris. Terlebih ini adalah kali pertama seorang Jendral Inggris gugur di pertempuran dalam 5 tahun terakhir melawan Jerman maupun Jepang.

Berikut ini merupakan jabatan-jabatan penting yang pernah diemban Mallaby semasa hidupnya:

  • 1941–1942: Deputi Direktur Operasi Militer, India.[2]
  • 1943–1944: Direktur Operasi Militer, India.
  • 1944–1945: Perwira Komandan Brigade 49 Divisi India, Hindia Belanda

Kematian Brigadir Jenderal Mallaby

Mallaby gugur pada pertempuran 30 Oktober 1945 di dalam sebuah mobil Lincoln berwarna abu-abu tepat di depan gedung Internatio surabaya, sore hari pada 30 Oktober 1945. Mallaby ditembak dari jarak dekat oleh seorang pemuda Indonesia yang kemudian dibalas oleh Kapten R.C. Smith dengan melempar granat ke pemuda tersebut. Tidak jelas apakah Mallaby tewas akibat tembakan pemuda Indonesia tersebut atau justru akibat granat yang dilemparkan. Yang pasti ledakan tersebut kemudian membakar mobil yang ditumpangi Mallaby dan membuat jasad Mallaby sulit untuk dikenali.

Mobil Tempat Mallaby Tewas Pada Pertempuran 30 Oktober 1945
Credit Photo: liputan6.com

Jasad Mallaby yang hangus terbakar kemudian dapat dikenali dari bekas jam tangan yang digunakannya, dimana Mallaby selalu menggunakan 2 buah jam tangan. Jenazah Mallaby kemudian dimakamkan di pemakaman Kembang Kuning sebelum dipindahkan ke Jakarta War Cemetery (JWC), kompleks makam tentara Sekutu di Menteng Pulo, Jakarta sekitar tahun 1960-an

Pusara Mallaby
Credit Photo: albertna.com

Kekecewaan Mallaby

Mallaby yang tampak angkuh dan arogan Sebetulnya menyimpan rasa kecewa pada atasannya ketika mendarat di Surabaya. Pasalnya, dalam situasi yang sulit karena permusuhan orang Surabaya, Inggris sudah lebih dulu memerintahkan untuk menyebar ultimatum kepada orang-orang Indonesia agar menyerahkan senjata. Tentunya hal ini tidak sesuai dengan kesepakatan yang telah Mallaby buat dengan beberapa tokoh perjuangan di Surabaya yang bersepakat bahwa senjata yang dilucuti hanya milik serdadu Jepang. Hal ini terungkap dari surat yang dikirimkannya kepada sang Istri dimana Mallaby menuliskan “Panglima merusakkan segalanya dengan menyebarkan pamflet berisi ultimatum dari pesawat yang tinggal landas dari Betawi tanpa memberikan isinya lebih dulu padaku. Pamflet ini adalah tamparan yang amat memalukan bagiku sebagai perwira tinggi.”

Click to comment
To Top