Otomotif

TAHUKAH KAMU: Asal-usul Ojek

Asal usul Ojek. Credit Photo: Seminyaktimes.com

Sayaajarkan – Ojek sudah dianggap sebuah keniscayaan. Sebuah moda transportasi yang khas dari wilayah yang sistem transportasinya semrawut hingga orang mau tak mau mencari solusi dan bersiasat demi mengatasi kemacetan.

Melihat cukup pentingnya peran ojek dalam menghadapi kemacetan, ojek sudah diterima sebagai alternatif moda transportasi yang disukai dan digemari warga kota besar, semisal Jakarta.

Tidak hanya itu, ojek kini sudah demikian berkembang sampai-sampai melahirkan peluang usaha berwujud ojek online macam diterapkan GO-JEK, Grab atau Uber.

Namun, pernah nggak kamu bertanya-tanya sejak kapan ojek ada, mengisi jalanan ibu kota? Kenapa kehadirannya sudah demikian kita maklumi?

Asal usul Ojek

Grab, Uber, dan Go-Jek. Keberadaannya kini mulai jadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Credit Photo: uzone.id

Yuk, kita telusuri bersama sejarahnya.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, baiknya kita melihat kondisi jalanan Jakarta. Nyaris tiap hari warga Jakarta disuguhi pemandangan jalanan Ibu Kota yang penuh sesak dengan berbagai macam kendaraan. Dari sekian banyak jenis kendaraan yang berebut jalan untuk sampai ke tujuan, sepeda motor menjadi andalan di Jakarta.

Sejak awal, kehadiran motor di Jakarta adalah siasat warga kota yang ingin mengatasi kemacetan jalanan. Berkendara dengan mobil pribadi dianggap tak praktis dan masih mahal bagi warga kebanyakan. Sementara harga motor masih terjangkau. Deretan motor bebek hingga motor matic termurah pun seolah tak habis-habis diiklankan.

Dan terutama, motor bisa diandalkan menghindari kemacetan. Yang kebetulan tak bermotor, tapi ngin memanfaatkan kehandalan motor kemudian memilih moda transportasi umum yang kita sebut ojek.

Asal usul Ojek

Keberadaan ojek terbukti membantu masyarakat maupun wisatawan untuk menjelajah ke sudut kota yang dituju. Credit Photo: Netralnews.com

Arti Kata Ojek

Pernah iseng buka kamus Bahasa Indonesia dan mencari arti kata “ojek” menurut kamus? Ditulis Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti, “Sepeda atau sepeda motor yang ditambangkan dengan cara memboncengkan penumpang atau penyewanya.” Ditambangkan berarti menjadikan kendaraan dimaksud sebagai alat mencari penghasilan. Yakni, dengan menyewakan kursi penumpang di sepeda atau sepeda motor.

Kalau ditanya kapan masyarakat Indonesia, terutama Jakarta, mengenal istilah ojek, jawabnya sejak 1960-an. Keterangan ini diperoleh dari buku Berkah & Bencana Motor (Penerbit Nalar, 2011) yang berisi kartun dan komik perihal motor. Di komik pendek berjudul “Ojekpedia” karya komikus Beng Rahadian di buku itu, ditemukan asal usul ojek.

Tulis Beng, istilah ini sudah ada sejak dulu pada dekade ’60-an. Ojek adalah kependekan dari “naik oto duduk nga”jejek.” Oto adalah sebutan orang zaman dulu untuk menyebut kendaraan bermotor. Mobil disebut otomobil, bis disebut otobus.

Asal usul lain, kata Beng pula, “ojek” berasal dari perubahan bunyi kata “obyek” yang maknanya adalah pekerjaan sambilan. Dari semula kata “ngobyek” berubah jadi “ngobjek” dan akhirnya menjadi “ojek” yang di sini berarti memanfaatkan kendaraan pribadi, entah sepeda atau sepeda motor, sebagai mata pencarian sampingan.

Yang menarik disimak pula, kenapa ojek pada akhirnya lahir pada dekade 1960-an itu? Apa yang terjadi pada Jakarta di tahun-tahun itu hingga ojek muncul mengisi jalanan ibu kota?

Asal usul Ojek

Gambaran Jakarta di tahun 1960. Credit Photo: Jakartainformer.com

Dimulai oleh Sukarno

Semuanya berawal dari Sukarno yang memberi perintah pada Soediro, pemimpin Jakarta yang di era 1950-an masih berwujud kotamadya. Sejak dulu, Jakarta selalu jadi pusat pemerintahan dan ekonomi entah di zaman Belanda, Jepang, sampai Indonesia merdeka. Jakarta sudah sejak dulu ditakdirkan sebagai kota penting yang menjadi pusat aktivitas politik maupun ekonomi.

Pada penghujung 1950-an, selewat 10 tahun Indonesia merdeka, makin terasa penting untuk memodernisasi Jakarta menjadi ibu kota kelas dunia. Jakarta kala itu juga semakin menarik minat pendatang dari daerah lain. Urbanisasi mulai marak pada 1950-an seiring Jakarta makin menahbiskan dirinya sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi negara.

Tahun 1953, Presiden Sukarno melantik Soediro menjadi Walikota Kotapraja Jakarta Raya. Sebelumnya, Soediro kelahiran Yogyakarta, 24 April 1911, menjabat Gubernur Provinsi Sulawesi.

Untuk menunjang penataan kota, modernisasi sarana transportasi pun ia lakukan. Atas permintaan Presiden Sukarno, menjelang akhir tahun 1950-an Soediro menghapus jaringan trem di Jakarta karena dinilai sudah tidak sesuai dengan kebutuhan kota modern. Sayangnya, penghapusan jaringan trem tidak disertai dengan penyediaan moda transportasi massal lainnya, sehingga menimbulkan permasalahan baru.

Moda transportasi massal yang tersedia dan dikelola oleh pemerintah saat itu hanya bus kota yang dikelola oleh Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD) yang hingga kini masih eksis. Akibatnya, masyarakat menempuh penyelesaian sendiri-sendiri yang membuat kehadiran becak menjadi pilihan. Selain becak, orang yang memiliki sepeda juga tak ingin ketinggalan memanfaatkan mulai kacaunya transportasi ibu kota.

Dengan cara “ngobjek” tadi, ojek sepeda lahir. Ya, ojek sepeda lahir lebih dulu ketimbang motor. Di tahun 1960-an, motor masih terbilang barang mewah yang hanya bisa dimiliki kalangan berduit.

Asal usul Ojek

Meski sudah jarang, ojek sepeda sebenarnya masih bisa ditemui di beberapa kota di Indonesia. Credit Photo: Guguskata.com

Ojek Sepeda Diganti Motor.

Nah, menginjak 1970-an, di masa Orde Baru dan ekonomi negara semakin baik, harga motor pabrikan Jepang kian terjangkau masyarakat. Di lain pihak, transportasi Jakarta masih menyisakan moda transportasi alternatif untuk jalan-jalan yang tak terjangkau bis kota. Becak dan ojek sepeda kian marak. Becak yang semakin banyak mulai membuat macet Jakarta. Keberadaan becak mulai dihapuskan secara perlahan sejak 1980-an, saat DKI Jakarta dipimpin Gubernur Tjokropranolo.

Pada era kepemimpinan Gubernur Sutiyoso, becak secara tegas dihapuskan dari wilayah DKI. Mantan Pangdam Jaya itu menilai becak sudah tidak cocok bagi Jakarta yang tengah melaksanakan modernisasi transportasi umum. Becak juga dianggap membuat jalan macet karena jalannya yang lambat. Dari sini, seiring harga sepeda motor yang kian murah dan becak yang dipaksa menghilang dari jalanan ibu kota, ojek menggantikan posisi tersebut.** (dari berbagai sumber)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top