Self Development

Bullying: Tips Hadapi Penindasan di Kantor

Bullying. Credit Photo: drjennifernewman.com

Sayaajarkan – Bullying bisa terjadi di banyak tempat. Dari sekolah hingga lingkungan pergaulan. Termasuk di tempat kerja alias kantor.

Nah, bullying di kantor, bisa berefek lebih merusak ketimbang yang kita alami di sekolah saat kecil dulu. Akibat yang disebabkan penindasan itu merentang dari sekadar stres setiap kali di kantor hingga produktivitas kerja melempem, yang berujung pada peningkatan karier kita terhambat. Bullying juga membuat kesehatan mental karyawan terganggu.

Bullying di kantor macam-macam bentuknya. Apa kamu selalu kena kritik atau diomeli tanpa alasan oleh bos di depan orang banyak? Atau kamu selalu dipersalahkan padahal sudah bekerja dengan benar? Wah, bisa jadi kamu korban penindasan atau bullying. Saya menawarkan solusi buat kamu melawan bullying di kantor. Sini saya ajarkan.

Jangan membalas dengan kasar

Membalas dengan sama kerasnya, semisal menanggapi teriakan si penindas dengan sama kencangnya, justru menandakan kita memberi perlawanan. Hal ini, alih-alih efektif, malah makin membuat suasana meruncing yang bisa-bisa berujung perkelahian. Dan ini mesti dicamkan benar-benar, banyak kantor tak mentolerir perkelahian antar karyawan. Ingat, meski awalnya kamu merasa tak merasa bersalah, tetap saja dipersalahkan gara-gara berkelahi di kantor.

Bullying.

Banyak orang mengartikan bullying hanya dari kekerasan fisik, padahal bullying juga kerap terjadi secara lisan. Credit Photo: Instinct Magazine

Selalu berprangka baik

Ketimbang selalu menyangka kalau rekan sekerja atau atasan (yang pem-bully) aslinya punya sifat jelek seperti kasar atau ingin menjatuhkan, mending berbaik sangka kalau ia tak tahu pada akibat dari perbuatannya pada kamu. Prasangka baik ini bisa jadi awal percakapan yang baik kala kita berniat menghentikan segala bentuk penindasannya. Prakteknya mirip kala ada orang tak tahu diri yang tiba-tiba menyela saat tengah mengantri di mesin ATM. Bilang padanya dengan sopan, “Kamu sadar kalau saya dari tadi berdiri menunggu giliran?” Nah, omongan sopan dan seolah tanpa dosa itu diharap bisa membuatnya merasa bersalah dan syukur-syukur mengendorkan amarahnya.

Pisahkan antara maksud dengan hasil

Jika si penindas terang-terangan mengomeli kita atau bertindak kasar di depan banyak orang, sebelum berpikir untuk menyerang balik, tanya diri sendiri, “Mengapa manusia yang punya akal budi bisa melakukan tindakan tak manusiawi seperti itu?” Lalu, setelah bisa berpikir jernih, dekati si penindas baik-baik dan katakan, “Saya tahu kamu tak bermaksud kasar seperti itu, tapi dengan mengomeli saya di depan banyak orang, membuat saya tak merasa nyaman.”

Mulailah dari fakta

Saat dicerca dengan kasar oleh orang lain, wajar saja kita merasa jadi korban dan yakin kalau si penindas itu bermaksud buruk. Perasaan macam ini bakal berujung pada sebuah perkelahian atau konflik yang makin meningkat. Maka, sebelum menyerang balik, ingat-ingat lagi keadaan sebelumnya. Misalnya, bilang “Kemarin-kamarin bapak tak mempermasalahkan usulan saya, sekarang bapak pikir ide saya itu buruk.” Lalu buat kesimpulan dan tanya balik, “Yang bapak inginkan sebenarnya apa?” Perkataan itu, tentu saja tak diungkapkan dengan nada menyerang balik yang membuat si penindas terpojok. Paling baik membicarakannya secara pribadi tak di depan banyak orang.

bullying.

Bijaksanalah dalam menyikapi setiap perlakuan yang datang kepada kita. Karena kita adalah pribadi yang jauh lebih baik dari para pembully. Credit Photo: Kogk.com

Jika bicara baik-baik tak ampuh

Saran pemecahan lain diungkap Debra Shapiro, seorang profesor manajemen dari Universitas Maryland. Korban penindasan, katanya, mesti bicara baik-baik kalau merasa tertindas oleh tindakan atasan atau rekan sekerja. “Pada banyak kasus, bicara baik-baik akan membuat si penindas merasa malu sendiri,” katanya.

Jika bicara baik-baik saja tidak cukup, katanya lagi, laporkan tindakan penindasan pada atasan yang lebih tinggi. Jika memungkinkan, catat setiap penindasan yang kita alami. Langkah-langkah ini, katanya, terasa mudah dikatakan tapi sulit buat dilakukan.

Tapi, sungguh penting untuk menghentikan setiap penindasan yang kita alami. Sebab, hal paling penting bagi seorang karyawan saat bekerja adalah kepuasan kerja. Kepuasan kerja berarti kita tahu kalau kita berguna, merasa aman di tempat kerja, merasa dihormati oleh rekan sekerja atau atasan. Dan setiap kali bangun pagi, sebelum berangkat kerja, kita yakin kalau kita punya perasaan enak atas pekerjaan yang kita lakukan.

Apa perasaan itu bisa kamu nikmati bila merasa ditindas? Jadi, saatnya hentikan segala penindasan atau kamu kehilangan gairah bekerja. **

Click to comment
To Top