Personal

Marah? Redakan dengan Cerita Klasik Ini

Cerita pendek pereda marah

Sayaajarkan – Sedang marah? Wajar, setiap dari kita pasti memiliki berbagai macam emosi, entah itu emosi positif maupun emosi negatif.

Yang termasuk emosi positif diantaranya: senang, cinta, harapan, suka, dan lain sebagainya. Sementara perasaan sedih, marah, kecewa, dan lain sebagainya termasuk emosi negatif. Emosi-emosi ini sudah berkembang dalam diri manusia sejak bayi. Jika pernah menonton film ‘Inside Out’, maka pemahaman kita terhadap emosi akan lebih baik.

Dari sekian banyak ragam emosi, mungkin kemarahan adalah yang paling sering muncul. Lalu, bagaimana sih cara mengendalikannya? Kali ini, kami tak akan membagi tips-tips yang sudah sangat banyak informasinya, melainkan menceritakan sebuah kisah pendek yang akan membuat amarah kita mereda.

Cerita Pereda Marah

Alkisah, ada seorang anak laki-laki yang sangat pemarah.

Khawatir dengan sikap sang anak, ayahnya kemudian memberikan sekantung paku dan memintanya memaku paku tersebut ke pagar setiap kali kehilangan kesabaran.

Pada hari pertama, ia “berhasil” memaku 37 paku ke pagar. Metodenya berhasil, perlahan demi perlahan si anak mulai bisa mengendalikan amarahnya. Ia pun tak lagi memerlukan paku untuk bisa meredakan amarahnya.

Jangan biarkan amarahmu melukai orang-orang di sekitarmu. Credit photo: Photos Public Domain.

Selang beberapa waktu kemudian, sang ayah menyarankan agar si anak mulai mencabut paku-paku tersebut dari pagar.

Hari-hari berlalu dan anak itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah berhasil dicabut. Sang ayah lantas menggandeng tangan anaknya dan membawanya ke pagar.

“Kamu telah melakukannya dengan baik, anakku. Tetapi lihatlah lubang di pagar itu. Pagar itu tidak akan pernah sama lagi seperti yang dulu. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, itu akan meninggalkan luka seperti ini. Kamu dapat menusuk orang lain dengan pisau kemudian mencabutnya kembali. Namun, berapa kali pun kamu meminta maaf, lukanya masih disana.”

Hadapi Kemarahan Dengan Bijak

Bagaimana? Masih marahkah? Semoga cerita diatas bisa menjadi renungan bagi kita semua. Ingat, marah hanya sesaat, namun luka yang diakibatkan bisa membekas selamanya.

Yuk, jadi lebih bijak. Jangan ucapkan dan putuskan apapun ketika sedang marah.

Click to comment

Leave a Reply

Please Login to comment
  Subscribe  
Notify of
To Top