Self Development

Berhentilah Mencari Passion Karena Itu Buruk Bagi Karier!

Passion oembunuh karier?

Sayaajarkan – Apakah mengejar sesuatu yang menjadi hasrat alias passion kita merupakan syarat mutlak untuk sebuah kesuksesan dan kebahagiaan?

Bagaimana kalau kita merasa tidak tahu apa yang menjadi passion kita? Apakah harus menemukannya terlebih dahulu agar gemilang dalam apa yang kita kerjakan?

Entahlah. Yang jelas sudah rahasia umum banyak orang yang setuju dan mengikuti narasi tersebut. Maklum, banyak sekali orang sukses di dunia meraih kesuksesannya karena menekuni bidang yang mereka cintai. Meski tidak bisa dipungkiri, banyak juga yang tak berhasil meraih mimpinya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Stanford di Inggris dan Yale-NUS di Singapura belum lama ini mengungkapkan hasil yang menarik soal passion.

Passion Tak Selalu Bisa Jadi Jalan Keluar

Sejumlah mahasiswa yang menjadi objek penelitian dibagi berdasarkan keengganan mereka membaca artikel-artikel seputar sains, teknologi, engineering, matematika, serta liberal arts. Para mahasiswa disuruh untuk membaca subjek di luar minat mereka.

Hasilnya, mereka yang memiliki pola pikir tetap atau sempit cenderung menganggap artikel-artikel tersebut kurang menarik dibandingkan orang dengan pola pikir berkembang.

Salah satu hal terpenting dalam karier adalah menjaga pikiran kita agar tetap terbuka luas untuk segala kemungkinan. Credit photo: writermag.com
Salah satu hal terpenting dalam karier adalah menjaga pikiran kita agar tetap terbuka luas untuk segala kemungkinan. Credit photo: writermag.com


Bagaimana maksudnya? Jadi, dilansir dari Entrepreneur.com, studi tersebut lebih lanjut menunjukan bahwa “mencari passion” justru membuat pola pikir atau mindset kita menjadi tetap atau sempit. Orang dengan mindset seperti itu percaya bahwa mereka terlahir dengan hanya minat tertentu.

Hal tersebut dikatakan justru bisa berdampak negatif karena membatasi potensi diri kita sendiri. Memiliki pola pikir sedemikian rupa juga bisa membuat seseorang menjadi pasif dalam menyikapi karier, atau juga kehidupannya secara umum.

“Menyarankan seseorang untuk menemukan passion adalah seperti menyuruh dia menemukan hal itu di dalam diri,” kata Dr. Paul O’Keefe, kepala peneliti dan psikolog dari Yale-UNS, dikutip dari QZ.com.

“Itu sama dengan mengatakan bahwa passion lah yang akan melakukan sebagian besar hal untukmu,” lanjut dia.

Lebih dalam lagi, ini akan membuat kita merasa bahwa menemukan passion adalah kunci segalanya, seakan hidup akan berubah menjadi indah seketika. Selanjutnya, kita jadi cenderung hanya mencari jalan pintas saat menghadapi tantangan di tengah jalan.

Akibatnya, kita justru akan semakin menjauh dari hasil atau tujuan yang diharapkan. Pasalnya, alih-alih mencoba menciptakan karier yang sejalan dengan passion supaya terus meningkat, kita malah hanya menjadi stagnan dan benar-benar tidak bahagia. Tidak ketinggalan juga, mindset “mengejar passion” juga akan membuat kita merasa hanya memiliki minat terbatas, dan mengecilkan motivasi untuk mengeksplor bidang-bidang lain.

Menurut para psikolog, alangkah baiknya kita menumbuhkan atau mengembangkan passion kita, ketimbang terpaku dalam menemukannya. Seperti cinta, terkadang kita harus memacari beberapa orang berbeda dahulu sebelum akhirnya menemukan cinta sejati.

Kalau menurut kamu bagaimana? Setujukah dengan penelitian tersebut? Atau punya pendapat lain?

Click to comment
To Top