Movie

Morbius Review: Benarkah Sejelek Itu?

Morbius

SayaAjarkan – Setelah terhitung gagal menarik para pecinta film, khususnya pecandu adaptasi Marvel untuk datang ke bioskop, film tentang musuh Spider-Man, Morbius kini telah hadir di ranah digital. Ini tentu jadi kesempatan berharga bagi orang-orang yang belum menonton filmnya karena termakan ulasan pedas para kritikus.

Hmm, kalau membaca paragraf di atas, pasti banyak dari kalian yang berkesimpulan jika film Morbius ternyata bagus, dan para kritikus selama ini salah.

Sayangnya, saya tidak bisa bilang begitu. Film Morbius tetaplah gagal memenuhi ekspektasi para penyuka komiknya, dan tak mampu menyamai standar film-film Marvel Cinematic Universe belakangan.

Semua itu diperparah oleh kebohongan yang dilakukan film ini melalui trailernya, di mana mereka seolah berjanji untuk menghadirkan Spider-Man, lewat beberapa penampakan di trailernya.

Namun, kalau dibilang jelek-jelek banget, tentu tidak. Morbius tetap punya berbagai suguhan menawan yang bisa bikin kamu betah menontonnya hingga akhir, apalagi dalam versi digital di mana kamu bisa menikmatinya sedikit demi sedikit dengan ekspektasi serendah mungkin, alias untuk sekadar mengisi waktu.

Bisa jadi, kamu akan terkejut dengan kualitasnya yang ternyata masih oke untuk ditonton.

Sinopsis Film Morbius

Morbius bercerita mengenai Ilmuwan Michael Morbius yang memiliki penyakit langka pada darahnya. Sadar jika penyakitnya tersebut pelan-pelan akan membunuhnya, Morbius kemudian melakukan penelitian menggunakan DNA kelelawar untuk menciptakan obat penawarnya. Malang, obat tersebut pada akhirnya malah mengubahnya menjadi makhluk penghisap darah.

Morbius dibintangi Jared Leto sebagai Michael Morbius, dan Matt Smith sebagai Milo. Film ini disutradarai oleh Daniel Espinosa yang sebelumnya cukup sukses membidani film bertema Alien. Life.

Penuturan yang Ringkas dengan CGI Berlebihan

Seperti yang dituturkan di awal artikel, film Morbius sebenarnya lumayan enjoyable dengan skrip yang padat dan tak bertele-tele, serta beberapa adegan laganya yang cukup menawan.

Namun, saking singkatnya, film ini jadi kurang memberi waktu bagi penonton untuk bisa peduli ke para karakternya. Kita jadinya hanya melihat karakter-karakter ini sibuk dengan kebutuhannya masing-masing, tanpa menjelaskan motivasi di balik keputusan-keputusan mereka.

Sebagai contoh, kita bisa melihat perubahan drastis saudara angkatnya, Milo yang tiba-tiba beralih menjadi tak punya rasa kasihan setelah ikut meminum serum buatan Morbius, dan menjadi makhluk penghisap darah.

Padahal, sejak kecil, Milo punya perilaku yang baik, dan bahkan cenderung setia sebagai sahabat. Perubahan yang terlalu dadakan seperti ini tentu akan membuat film ini jadi terasa dipaksakan, dengan motif yang kesannya diada-adain.

Salah satu kelemahan lain dari film ini adalah ketidakmampuan tim di balik layar untuk mengakali rating PG-13. Hal ini jadi cukup konyol dimana para vampire terlihat minum kantung darah, tanpa darah sama sekali yang terlihat di dalamnya.

Begitu juga saat adegan cabik mencabik atau menghisap darah, sama sekali tak ada darah yang terlihat, tanpa diakali dengan teknik yang baik agar terlihat masuk akal.

Sebagai gantinya, kita malah disodori bayangan berwarna warni saat para vampirnya bergerak dengan kecepatan tinggi. Sesekali ini mungkin terlihat keren, namun jika diulang-ulang, tentu bikin mata capek. Sungguh sayang sekali.

Berapa Skornya?

Pada akhirnya, yang bisa dinikmati dari Morbius adalah akting-akting oke para pemainnya, serta cerita yang ringkas, sehingga tidak membuat kita bosan saat menontonnya.

Dan kalau boleh jujur, secara keseluruhan film ini masih oke untuk dinikmati sebagai sebuah popcorn movie, tanpa perlu didramatisir dengan ekspektasi berlebihan.

Nah, gimana, apakah review ini bisa membujuk kamu untuk menonton filmnya? Beritahu kami ya.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top
RajaBackLink.com
x