Movie

Orphan First Kill Review: Ketika Psikopat Kewalahan oleh Ulahnya Sendiri

Orphan: The First Kill

Peringatan: review Orphan First Kill di bawah ini mengandung spoiler.

SayaAjarkan – Usai menyaksikan film pertama Orphan, sekilas agak sulit membayangkan bagaimana instalasi berikutnya akan dibuat.

Yang jadi kekhawatiran utama adalah daya kejut yang sudah terlanjur dihabiskan di ending filmnya, di mana bocah yatim piatu yang jadi fokus utama film ini, ternyata adalah wanita dewasa berusia 30-an, dengan kelainan bentuk tubuh dan juga gangguan kejiwaan.

Lalu, jika dibuat lanjutannya, kejutan apalagi yang sekiranya bisa menandingi plot twist di film pertamanya? Pertanyaan ini tentu jadi tantangan tersendiri, terutama bagi sang sutradara, William Brent Bell, yang sebelumnya sudah pernah ‘kena maki’ para penikmat horor lantaran sekuel horor The Boy (Brahmn: The Boy II) yang semrawut.

Untungnya, Pihak studio cukup cerdas dalam menjawab tantangan itu. Alih-alih membuat sekuel, lanjutan Orphan lahir dalam bentuk prekuel berjudul Orphan: The First Kill.

Di film tersebut, William Brent Bell berhasil menampilkan tontonan thriller psikologi yang menawan. Keberhasilan ini juga tak lepas dari keterlibatan David Coggeshall yang mengerjakan skenarionya dengan cukup baik.

Sinopsis Orphan: The First Kill

Film ini mengambil timeline di tahun 2007, yang menceritakan tentang pasien psikiatri di Institut Saarne bernama Estonia Leena Klammer.

Ia adalah seorang wanita berusia 31 tahun dengan gangguan hormonal langka yang disebut hipopituitarisme, yang membuatnya tampak seperti anak berusia 9 tahun.

Suatu hari, Leena melarikan diri dari Institut Saarne. Ia kemudian menyadari jika wajahnya memiliki kemiripan dengan Esther Albright, anak kecil yang hilang pada tahun 2003.

Leena lalu berpura-pura menjadi Esther, dan kemudian dipertemukan dengan orang tua asli Esther, yang ternyata sama sekali tidak seperti yang ia pikirkan.

Orphan The First Kill kembali dibintangi oleh Isabelle Fuhrman sebagai Leena, dan turut menampilkan Julia Stiles serta Rossif Sutherland sebagai orang tua Leena.

Tak Terduga dan Menyenangkan

Ketika mengikuti ceritanya hingga seperempat cerita, kebanyakan dari kita pasti akan mengira jika film ini bakal berujung ke tema ‘teror sosok asing ke sebuah keluarga,’ yang sudah puluhan kali dibuat dan cenderung membosankan.

Namun, di sinilah letak keseruannya. Perlawanan dan rahasia tak terduga dari para karakter yang kita kira sebagai korban, sukses menjadi kejutan yang menyenangkan.

Sayangnya, menjelang akhir, David Coggeshall sebagai penulis skenario nampak bingung untuk menyudahi ceritanya. Film pun akhirnya berakhir dengan kesan terburu-buru, sambil mengabaikan beberapa aspek-aspek yang sebenarnya bisa digali lebih dalam.

Di luar itu Orphan: First Kill adalah suguhan thriller segar yang sangat layak untuk kita tonton. Ingat, sebisa mungkin hindari spoiler, agar pengalaman menontonmu bisa menjadi lebih maksimal.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top