Movie

House of the Dragon Review: Mampukah Sebagus Game of Thrones?

House of the Dragon

SayaAjarkan – Naga, Politik, Pertumpahan darah… Sejumlah hal yang kita rindukan dari Game of Thrones kini kembali lewat prekuel-nya yang bertajuk House of the Dragon.

Serial ini mengambil latar 200 tahun sebelum event Game of Thrones, dan 172 tahun sebelum kelahiran Daenerys Targaryen.

Sinopsis House of the Dragon

Cerita House of the Dragon mengadaptasi sebagian novel Fire & Blood, yang menggambarkan kehancuran House Targaryen. Sebuah peristiwa yang mengarah ke perang antar calon pewaris tahta Targaryen, yang eventnya kita kenal dengan sebutan “Dance of the Dragons.”

Di episode pertama, kita akan diajak melihat kekhawatiran raja Viserys I Targaryen, yang hingga saat ini belum memiliki pewaris tahta, karena berulangkali gagal memiliki anak laki-laki. Harapannya kini hanya tertuju pada anak yang sedang dikandung oleh istrinya, Ratu Aemma.

Malang, harapan tersebut pupus. Pilihannya kini hanya dua, memberikan tahta pada saudaranya yang brutal, Daemon Targaryen, atau mengangkat putrinya, Rhaenyra Targaryen sebagai wanita pertama yang mewarisi tahta besi.

Memiliki Pace yang Lebih Cepat

Berbeda dengan Game of Thrones yang berjalan lambat dengan sangat detail (setidaknya di musim-musim awal), serial ini hadir dengan pace yang lebih cepat, dengan penjelasan yang lebih banyak tersuguh lewat narasi dan selipan dialog ketimbang visual.

Ini mungkin menjadi kabar baik dengan beberapa orang yang tidak terlalu tahan dengan pace yang terlalu lama. Namun juga berisiko kurang memberikan pondasi yang kuat, jika melihat konsep serial ini yang akan berlangsung panjang hingga bermusim-musim.

Di luar itu, akting para bintangnya, terutama Matt Smith, tampil dengan sangat baik dan meyakinkan. Suguhan visualnya juga terasa elegan dan menawan.

Sebagus apa serialnya?

Lalu, jika pertanyaannya adalah, “apakah serial ini mampu menyamai kualitas Game of Thrones?” Jawabannya adalah “sangat memungkinkan.”

Masih banyak waktu bagi House of the Dragon. Termasuk untuk memperdalam pengembangan para karakter dan penyelaman menuju konflik utamanya, di 9 episode berikutnya.

Lagipula, jika boleh menilai dari episode pertamanya, “kualitasnya terbilang sudah di atas rata-rata.”

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top