Movie

Pinocchio Review: Hasilnya di Atas Ekspektasi

Pinocchio

SayaAjarkan – Sebelum membahas Pinocchio. Perlu kita ketahui jika membuat ulang film menggunakan cerita yang sudah entah berapa kali teradopsi ke berbagai bentuk hiburan, adalah tantangan yang cukup berat.

Akan sulit rasanya membuat penonton tak membandingkannya dengan versi sebelumnya. Atau mencegah mereka terjebak kebosanan, karena sudah terlanjur khatam dengan ceritanya.

Namun, semua itu nampaknya bukan halangan bagi Disney. Seolah memvisualisasikan film-film animasinya ke dalam bentuk live action menjadi sesuatu yang wajib. Perusahaan film raksasa itu terus menyuguhkan versi live action dari judul-judul animasi terbaiknya.

Yang terbaru adalah Pinocchio, yang menggunakan nama besar Tom Hanks, Joseph Gordon-Levitt, Luke Evans, dan Benjamin Evan Ainsworth di deretan kastnya.

Sedikit catatan, meski tayang di layanan streaming, bukan lantas film ini jadi sekadarnya. CGI film ini bahkan sedikit lebih baik dari instalasi terbaru MCU, Thor: Love and Thunder yang komedinya berlebihan itu.

Sayangnya, bukan berarti juga kalau film ini menonjol dalam segala hal. Wig dan penampilan menggelikan Tom Hanks, dialog seadanya, serta perubahan beberapa karakternya, banyak membuat penonton lamanya merasa terkhianati.

Ceritanya juga hampir tak menyuguhkan sesuatu yang baru (kecuali satu plot twist!), selain penyampaian yang mungkin lebih catchy bagi penonton masa kini, yang mungkin belum pernah menyaksikan Pinocchio sebelumnya.

Ya! Mungkin ini yang memang jadi incaran Disney. Generasi muda yang tak sempat mengalami momen kejayaan perusahaan besar itu dengan animasi-animasi terbaiknya.

Sinopsis Pinocchio

Film ini bercerita tentang pemahat kayu tua yang kesepian, bernama Geppetto. Ia tinggal bersama anak kucing peliharaannya Figaro, dan ikan masnya Cleo.

Hari itu, Geppetto baru saja menyelesaikan pembuatan boneka kayu, yang ia buat berdasarkan putranya yang telah meninggal.

Sebelum tidur, Geppetto membuat permintaan pada seorang bintang, untuk menghidupkan boneka tersebut, yang telah ia beri nama Pinocchio.

Singkat cerita, doa Geppetto rupanya terkabul. Pinocchio hidup, dan sebuah petualangan besar pun dimulai.

Di atas ekspektasi, namun tetap tidak mengesankan

Agak kaget rasanya saat mengetahui fakta bahwa film ini sempat akan dipegang oleh Sam Mendes, sutradara yang pada 2019 lalu membuat kita kagum berkat film bertema Perang Dunia I, 1947, yang mengesankan itu.

Sutradara Paul King (Paddington) juga sempat masuk pertimbangan. Sebelum akhirnya jatuh ke tangan Robert Zemeckis, dan menjadikan film ini sebagai reuni keempatnya dengan Tom Hanks, setelah Forest Gump, Cast Away, dan The Polar Express.

Sayangnya, jika berbicara tentang reuni itu, film ini sontak jadi kolaborasi terlemah yang mereka buat. Meski cukup berkesan secara visual, dialog dan alurnya terasa begitu kering.

Terkait plot twist yang sempat terucap di atas, perubahan cerita yang diupayakan justru malah memperpuruk keadaan. Dan membuat versi terbarunya ini kalah telak dengan versi originalnya, yang rilis di era 40-an.

Pada akhirnya, film Pinocchio mungkin mampu melebihi ekspektasi kita yang sudah jatuh terlebih dahulu akibat trailernya. Namun, untuk hasil akhirnya, film ini masih jauh dari memuaskan.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top