Movie

Mr. Harrigan’s Phone Review: Horor Tanpa Klimaks

Mr. Harrigan's Phone

SayaAjarkan – Ada kabar baik bagi para penyuka horor karya Stephen King. Salah satu adaptasi terbaru dari novelnya, yang berjudul Mr. Harrigan’s Phone resmi rilis di Netflix pada bulan ini.

Filmnya disutradarai oleh John Lee Hancock, yang tahun kemarin melejit lewat thriller menegangkan bertajuk The Little Things. Tak main-main, film tersebut sukses mengantarkan salah satu pemerannya, Jared Leto (Morbius) meraih nominasi sebagai Pemeran Pendukung Terbaik di ajang Golden Globe Awards 2001 dan Screen Actors Green Awards 2021.

Lalu, bagaimana dengan Mr. Harrigan’s Phone, apakah film ini berpotensi untuk masuk radar konvoi penghargaan di 2022?

Sinopsis Mr. Harrigan’s Phone

Mr. Harrigan’s Phone menampilkan Donald Sutherland sebagai Mr. Harrigan, dan aktor muda yang tengah naik daun, Jaeden Martell sebagai Craig.

Filmnya sendiri menceritakan tentang seorang anak-anak bernama Craig, yang mendapatkan tawaran dari pengusaha kaya yang telah pensiun, Mr. Harrigan, untuk membacakan koleksi novelnya setiap hari.

Mr. Harrigan menggajinya setiap minggu, dan hubungan kerja ini terus berjalan hingga Craig menyelasaikan sekolahnya, dan bersiap untuk menempuh masa kuliah.

Sebelum waktu kuliahnya tiba, Craig sempat membelikan Mr. Harrigan ponsel, agar bisa terus berkomunikasi.

Singkat cerita, Mr. Harrigan meninggal tak lama setelah itu. Namun komunikasi keduanya lewat ponsel tersebut masih bisa terus berjalan, dan menghadirkan pengalaman tak terduga dalam hidup Craig.

Pembangunan alur yang baik, namun berakhir hambar

Peringatan: Lanjutan tulisan di bawah ini mungkin mengandung spoiler.

Harus diakui, paruh pertama film ini, bahkan menjelang akhir, berjalan cukup rapi dengan alur yang nyaman untuk diikuti.

Chemistry yang tersaji antara tokoh Mr. Harrigan dan Craig juga terasa nyata, dan menimbulkan perasaan peduli dari kita sebagai penontonnya.

Selain itu, para pemeran pendukung di film ini pun tak sekadar lewat. Mereka punya andil yang lumayan besar dalam menghadirkan motif bagi tindakan dua tokoh utamanya.

Sayangnya, semua development yang sudah prima itu jadi terasa sia-sia saat kita menuju ke klimaks cerita. Tidak adanya plot twist, dan jawaban atas semua misteri yang ada, menghadirkan perasaan gagal tuntas saat film ini mencapai akhir.

Namun, di luar itu, film ini adalah sebuah adaptasi yang baik. Meski ceritanya sedikit mirip dengan salah satu adaptasi Sthephen King yang berjudul Heart in Atlantis, signature Stephen King mampu teraplikasikan dengan apik, dan sukses menjadikannya salah satu horor layak tonton di tahun ini.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top