Health

Anti Vaksin? Ini Hal Mengerikan yang Akan Terjadi

risiko hidup tanpa vaksin

Sayaajarkan – Sebagian kalangan masyarakat anti terhadap vaksin. Dengan berbagai alasan mereka menolak anaknya mendapat imunisasi, vaksin campak, rubella, dan lain sebagainya.

Tak hanya di Indonesia, di yang katanya negara maju seperti Amerika Serikat pun terjadi. Dari rumor menyebabkan autisme, hingga alasan pilihan gaya hidup macam veganisme pun jadi alasan. Dikutip dari laman Fiercepharma, angka vaksinasi di negeri Paman Sam telah menurun selama beberapa dekade terakhir.

Di Tanah Air, beberapa waktu belakangan, sebagian orang tua menolak vaksinasi MR (Measles Rubella) karena alasan agama. Vaksin produksi Serum Institute of India (SII) diketahui memang mengandung bahan atau unsur babi yang notabene haram bagi umat Islam.

Meski demikian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) seperti dikutip dari mui.or.id, mengeluarkan fatwa terkait masalah ini. Vaksin MR tersebut meskipun mengandung unsur yang hukumnya haram, saat ini menjadi mubah (diperbolehkan) karena alasan keterpaksaan (darurat) mengingat bahaya yang akan ditimbulkan bila tidak diimunisasi, serta belum ditemukannya vaksin MR yang halal dan suci.

Tapi seberbahaya apakah bila kita tidak mendapatkan vaksinasi?

Mungkin selama ini kita jarang melihat lagi berbagai wabah penyakit menyerang seperti campak, difteri, dan rubella. Semua itu berkat vaksin. Saking tidak terlihat berbahaya lagi, mungkin banyak yang merasa vaksinasi sudah tidak diperlukan lagi.

Vaksin memiliki kegunaan yang besar dalam kehidupan manusia. Credit photo: Liputan6.com
Vaksin memiliki kegunaan yang besar dalam kehidupan manusia. Credit photo: Liputan6.com

Risiko Menolak Vaksin

Dilansir insh.world, dalam videonya yang berjudul ‘What If We Stopped Vaccinations?’ pemahaman seperti demikian pernah melanda Jepang. Pada tahun 1974, sebanyak 80% dari masyarakat Jepang mendapatkan vaksinasi batuk rejan. Batuk rejan merupakan infeksi bakteri pada paru-paru yang dapat dengan mudah menulari siapapun melalui udara.

Karena hanya terdapat 393 kasus batuk rejan dan nihil kematian tahun itu, masyarakat Jepang mulai mengabaikannya. Akibatnya, pada tahun 1979, hanya 10 persen dari anak-anak Jepang yang divaksin. Hasilnya, 13.000 kasus muncul, dan angka kematian terkait penyakit tersebut mencapai 41 kasus.

Jadi rasanya tidak melakukan vaksin adalah hal yang sangat egois. Tidak hanya membahayakan kesehatan dan nyawa seorang anak, bayangkan bila banyak sekali yang tidak melakukannya. Wabah mengerikan dan nyawa orang banyak taruhannya.

Masih ragu untuk memberi vaksin anak-anak kita? Kunjungi rumah sakit terdekat atau bisa ke Rumah Vaksinasi yang ada di dekat kita.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top