Health

Bahaya Burnout, dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi burnout

Sayaajarkan – Burnout atau kelelahan mental adalah kondisi saat tubuh mengalami kelelahan emosional dan fisik. Biasanya akibat stres berlebihan.

Tidak sedikit orang yang mengalami burnout atau keletihan mental selama pandemi. Baik tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien, maupun masyarakat umum yang harus beradaptasi dengan new normal.

Burnout tidak boleh berlarut-larut, dan perlu cara tepat untuk mengatasinya. Ini penting karena keletihan mental macam ini dapat memengaruhi kesehatan fisik.

Siapa yang rawan terkena burnout ?

Siapa saja bisa mengalami keletihan mental. Namun kondisi ini lebih banyak terjadi pada orang yang sering memaksa diri untuk terus bekerja, dan kurang mendapatkan apresiasi pekerjaan dari atasan.

Orang-orang seperti ini biasanya memiliki beban kerja yang berat, atau pekerjaan yang monoton.

Menurut survei program Magister Kedokteran Kerja FK UI tahun 2020, 1.461 dokter yang menjadi responden survei, mengaku mengalami burnout.

Mengenali gejalanya

Lantas, gejala apa saja yang sering kita jumpai, ketika seseorang mengalami burnout?

Mudah Cemas
Stres dan frustasi, atau jenuh terhadap pekerjaan atau rutinitas membuat kita menjadi sinis terhadap orang-orang di sekitar. Beberapa dari mereka yang menderita keletihan mental juga sering berpikir negatif terhadap respon orang lain akan dirinya.

Abai terhadap kebersihan diri
Penderita burnout kerap merasa cuek dengan diri sendiri. Contohnya seperti tidak menggunakan masker saat berpergian keluar, atau tidak menyadari pentingnya menjaga kesehatan.

Mengisolasi diri dari lingkungan sosial
Pekerjaan terkadang terlanjur terasa sebagai beban hidup, sehingga membuat mereka enggan atau berhenti bersosialisasi dengan rekan kerja, teman, maupun anggota keluarga yang terlibat dalam pekerjaan tersebut.

Cara mengatasi burnout

Burnout yang tidak teratasi akan berdampak buruk bagi diri sendiri. Karena itu, sini saya ajarkan cara mengatasinya:

Buat prioritas
Buatlah prioritas pekerjaan dari yang penting ke yang kurang penting. Dengan begitu, kita jadi tahu mana yang perlu kita kerjakan terlebih dahulu, sehingga energi yang terkuras tidak terlalu banyak.

Kurangi ekspektasi (dan berikan apresiasi terhadap diri sendiri)
Atur pola pikir dan bersikaplah realistis, sehingga dapat menurunkan ekspektasi terhadap pekerjaan yang tengah kita kerjakan.

Dengan begitu, kecemasan dan stres di tempat kerja dapat berkurang. Selain itu, jangan lupa untuk memberi apresiasi terhadap diri sendiri, terhadap prestasi yang dicapai.

Ubah gaya hidup
Terapkan gaya hidup sehat dengan cara mengonsumsi makanan sehat, rutin berolahraga, dan tidur yang cukup.

Hal-hal ini dapat mendukung tubuh yang sehat dan pikiran yang lebih mudah fokus, sehingga menurunkan risiko terjadinya burnout.

Ingat, burnout dalam pekerjaan tidak hanya berpengaruh pada hasil kerja, tapi juga dapat meregangkan hubungan dengan orang-orang di sekitar dan menurunkan kesehatan.

Jadi, yuk mulai jaga kesehatan tubuh dan mental kita.**(Feb)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top