Info Feed

Ternak Kalajengking: Seliter Racunnya hampir Rp 150 Miliar

Kalajengking. Dok/GDN Online

SayaAjarkan – Ribuan kalajengking di provinsi Sanliurfa, Turki tengah bersiap untuk menyerahkan racunnya, yang berguna untuk memproduksi obat. Sang pemilik kalajengking, akan menjual racun tersebut dalam bentuk bubuk, setelah sebelumnya dibekukan.

Seekor kalajengking, biasanya menghasilkan sekitar dua miligram racun. Menurut pemilik peternakan kalajengking, Metin Orenler, ternaknya mampu memanen dua gram racun per hari, untuk diserahkan ke laboratorium.

Orenler sendiri membuka peternakannya pada tahun 2020. Ada sekitar 20.000 kalajengking jenis Androctonus Turkiyensis yang hidup di sana.

“Kami membiakkan kalajengking itu sendiri dan juga memerah susunya,” kata Orenler. “Kami juga membekukan racun yang kami peroleh dari pemerahan yang kami lakukan, kemudian kami mengubahnya menjadi bubuk dan menjualnya ke Eropa.” Tambah Orenler.

Racunnya yang diekspor ke Prancis, Inggris, Jerman, dan Swiss, digunakan untuk memproduksi kosmetik, obat penghilang rasa sakit, dan antibiotik.

Orenler memastikan, ia bisa mendapat sekitar 10 juta dolar (sekitar Rp 148,6 miliar) untuk satu liter racun kalajengking.

Mengenal Manfaat Racun Kalajengking

Volker Herzig, seorang profesor di Universitas Sunshine Coast, memiliki salah satu koleksi paling beragam dari racun arachnida di planet ini.

Seperti racun arachnida lainnya, racun kalajengking mengandung banyak peptida dan protein berbeda yang dapat diisolasi dan diperiksa.

“Saya memiliki sekitar 160 hingga 170 racun kalajengking yang berbeda sekarang,” kata Dr Herzig, mengutip dari ABC.

“Mereka mungkin memiliki efek toksik pada beberapa hewan seperti serangga, tetapi mereka juga memiliki efek menguntungkan pada manusia.”

Saat ini, timnya sedang mempelajari bank racun-nya, untuk menguji kegunaan potensial dalam kontrol biologis terhadap serangga dan parasit. Mereka juga bekerja dengan mitra penelitian untuk menyelidiki penyakit manusia, yang dapat diredakan oleh ekstrak racun.

“Salah satu yang menarik dari racun arachnida adalah bahwa mereka sangat kuat dan spesifik,” kata Dr Herzig.

“Katakanlah protein terlalu aktif dalam penyakit tertentu. Jika kamu dapat menemukan racun yang bisa memblokir protein tersebut, itu bisa jadi obat yang sangat efektif.”

Dr Herzig bercerita, sejauh ini ia sudah menemukan komponen dalam racun yang bisa memblokir rasa sakit, dan mungkin terbukti efektif dalam pengobatan epilepsi dan sindrom iritasi usus besar.

Untuk mendapatkan racunnya, Dr Werzig mengaku tidak mengumpulkan kalajengking dari alam liar, karena itu butuh izin dan menjadi tantangan serius saat harus mengumpulkannya dalam jumlah banyak.

Sebagai gantinya, ia lebih memilih melakukan perjalanan eropa dan mendapatkan racunnya dari para pemelihara kalajengking.

Dr Herzig juga tidak mengincar racun dalam jumlah besar dari satu spesies. Sebaliknya, dia mengejar keragaman.

“Semakin banyak molekul yang dapat kamu saring terhadap target tertentu, semakin besar kemungkinan kamu menemukan sesuatu yang efektif terhadap target itu.”

Banyak diteliti

Seperti Dr Herzig, Dorothy Wai dari Monash Institute of Pharmaceutical Sciences juga sedang meneliti kegunaan medis dari kalajengking dan anemon laut.

Secara khusus, dia melihat ekstrak racun, yang dapat membantu orang yang menderita penyakit autoimun seperti multiple sclerosis.

“Kv1.3 adalah target protein pada permukaan sel imun,” kata Dr Wai. “Penelitian saya berfokus pada peptida dari racun kalajengking, yang dapat menghambat reseptor pada sel kekebalan. Memblokirnya dapat menghentikan sel kekebalan menjadi terlalu aktif.”

Dr Wai mengatakan, dia sudah beberapa kali dihubungi oleh petani racun kalajengking untuk mendukung penelitiannya.

“Saya mendapat telepon atau email dari sejumlah tempat, dari India misalnya. Mereka mengatakan memiliki kalajengking yang banyak di peternakan mereka, dan mencoba menjual racunnya kepada saya,” katanya. “Saya yakin sejumlah ahli toksin lain juga telah mereka hubungi.”

Namun, Dr Wai tidak membelinya, karena belum bisa memastikan darimana asal kalajengking tersebut.

Bisnis yang Bagus?

Dewasa ini, beberapa perusahaan kosmetik menambahkan racun kalajengking atau ekstraknya ke dalam produk, dan mengklaim hasil yang hampir seperti keajaiban, dari ramuan mereka.

Padahal, beberapa klaim perusahaan kosmetik tersebut sebenarnya belum dapat dibuktikan.

Dr Herzig menduga, dalam banyak kasus, beberapa pihak cenderung terburu-buru dalam mencoba menghasilkan uang dengan cepat, tanpa benar-benar menilai pasar.

“Saya pernah mendengar tentang ‘peternakan’ yang bermunculan di mana-mana, tetapi saya tidak benar-benar tahu apakah itu model bisnis yang bagus,” katanya.

Terkait perusahaan kosmetik yang mengklaim manfaat kesehatan, Dr Herzig menyarankan dosis skeptisisme yang sehat.

“Saya tidak tahu apa yang mereka taruh di sana. Saya akan berhati-hati, kecuali ada bukti ilmiah bahwa komponen itu berpengaruh.”

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top