Info Feed

TAHUKAH KAMU: Apa Itu Deja Vu?

Ilustrasi Déjà Vu. Dok/Pixabay

SayaAjarkan – “Duh, Déjà Vu nih! Saya pernah mengalami ini sepertinya! Habis ini pasti bakal begini nih, tuh bener kan?”

Sadar atau tidak, celetukan-celetukan macam itu sesekali terdengar dari teman atau keluarga kita.

Tidak menutup kemungkinan, sesekali kita juga akan merasakannya, mengalami kejadian yang seolah-olah pernah kita lalui sebelumnya.

Apa Itu Déjà Vu?

Déjà Vu secara harfiah berasal dari bahasa Prancis yang berarti “sudah terlihat.” Dari sisi medis, ini setara dengan “kesalahan” otak kecil, di mana dua aliran pemikiran bertabrakan.

Gangguan ini sendiri adalah pengalaman yang sangat umum. Lebih dari 97% orang di dunia pernah mengalaminya setidaknya sekali, dengan lebih dari dua pertiga orang mengalaminya secara teratur.

Santo Agustinus, seorang filsuf kuno, pertama kali menyebut konsep Déjà Vu pada tahun 400 M sebagai “false memoriae.”

Dan filsuf Prancis Emile Boirac, adalah orang pertama yang menggunakan istilah itu, tepatnya pada tahun 1890.

Penggunaan pertama frasa tersebut lantas berlanjut ke medis. Inisiatornya adalah F.L. Arnaud, seorang ahli saraf yang mengusulkan untuk menggunakannya pada pertemuan Societe Medico-Psychologique.

Dalam penelitian awal, banyak yang menganggap gangguan ini sebagai tanda yang membantu dokter mendiagnosa epilepsi. Tetapi, melalui penelitian yang lebih baru, terungkap bahwa ini mungkin merupakan masalah persepsi atau ingatan.

Bagaimana Déjà Vu Terjadi?

Sejumlah ahli percaya, gangguan ini mungkin merupakan hasil dari dua aliran kesadaran berbeda, yang bertabrakan dengan pengalaman mengenali situasi saat ini.

Kadang-kadang, yang terjadi sebenarnya adalah masalah persepsi yang terbelah, yang membuat seseorang memproses penglihatan dua kali karena terganggu, atau karena penglihatan mereka terhalang suatu alasan.

Dalam persepsi kedua, gangguan ini adalah perasaan yang dialami secara sadar, tetapi terasa asing karena kita tidak menyadari pengalaman pertama yang hanya terproses sebagian.

Apa Penyebabnya?

Meskipun sering terjadi, Déjà Vu bukanlah tanda sesuatu yang serius.

Orang yang lelah atau stres sering melaporkan mengalaminya. Hal ini diduga karena kelelahan dan stres, yang biasanya memengaruhi memori jangka panjang dan jangka pendek.

Selain itu, kelebihan dopamin juga mungkin terlibat dalam pengalaman Déjà Vu.

Ini didasarkan pada studi epilepsi lobus temporal, di mana peningkatan kadar dopamin, terdeteksi pada model hewan pengerat yang mengalami epilepsi lobus temporal.

Masih terkait dengan hipotesis tersebut, sebuah studi kasus menulis tentang seorang pria yang menggunakan kombinasi obat amantadine dan Proin (phenylpropanolmine) untuk mengobati gejala flu.

Ia lalu mulai mengalami beberapa episode Déjà Vu per jam dan baru berhenti setelah dia menghentikan pengobatan ini.

Kedua obat itu, ternyata bekerja pada sistem dopamin. Dan diperkirakan bahwa episode Déjà Vu ini disebabkan oleh kelebihan dopamin dalam sistem.

Siapa yang Mendapat Déjà Vu?

Menurut penelitian, meskipun siapapun dapat mengalami, mereka yang merasakan berkali-kali memiliki beberapa karakteristik yang sama, antara lain:

  • Berpenghasilan tinggi
  • Berpendidikan baik
  • Sering bepergian
  • Mereka yang mengingat mimpinya
  • Mereka yang liberal secara politik
  • Usia 15-25

Epilepsi, adalah kondisi neurologis yang paling umum dikaitkan dengan Déjà Vu, ini karena kondisi itu memengaruhi lobus temporal otak, tempat di mana penglihatan ditafsirkan.

Selain epilepsi, ejang parsial sederhana, yang populer sebagai kejang sadar onset fokal, juga sering dikaitkan dengan pengalaman tersebut.

Apa dampaknya?
Bagi kebanyakan orang sehat, gangguan ini tidak berdampak serius, melainkan sedikit perasaan bingung yang biasanya terjadi sesaat.

Namun, jika kamu sering mengalaminya, beberapa kali seminggu atau lebih, kamu mungkin perlu mengunjungi ahli saraf untuk dievaluasi, apakah ada indikasi epilepsi, atau ada kondisi neurologis lainnya.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top