Info Feed

Tidur: Fakta dan Mitos yang Mengiringinya

Ilustrasi tidur. Dok/Pixabay

SayaAjarkan – Seorang penulis asal Inggris, Aldous Huxley pernah menyebut bahwa hal yang paling diberkati dan berkah dari semua rahmat alam, adalah tidur.

Di luar semua manfaatnya, berikut beberapa fakta menarik, dan juga mitos tentang tidur yang mungkin belum kamu ketahui.

Fenomena yang Terjadi saat Kita Terlelap…

Rapid Eye Movement (REM)
Pada tahun 1951, seorang mahasiswa pascasarjana di Universitas Chicago, Eugene Aserinsky, menghubungkan putranya yang berusia 8 tahun, Armond, ke perangkat yang melacak REM dan gelombang otak.

Setelah Armond tertidur, Aserinsky memperhatikan dari ruangan lain bahwa “pena” pelacak mata berayun bolak-balik.

Karena mengira anaknya sudah bangun dan sedang melihat sekeliling, Aserinsky lalu masuk ke kamar. Ia kaget saat menemukan anak laki-lakinya masih terpejam nyenyak.

Aserinsky, kemudian menuliskan hasil penyelidikannya ke dalam makalah, yang kemudian terbit pada tahun 1953. Itu adalah makalah pertama yang menjelaskan tentang REM, dan membantah pendapat para ilmuwan yang percaya bahwa otak orang yang tertidur akan mati sementara.

Berkat makalah itu pula, kita sekarang tahu bahwa bukan hanya manusia. Tetapi semua mamalia darat dan banyak burung, mengalami fase tidur REM.

Saat memasuki fase REM, detak jantung akan meningkat, pernapasan menjadi tidak teratur, dan gelombang otak lebih bervariasi. Namun, otot utama yang biasanya kita kendalikan tidak bisa bergerak.

Tidur REM pertama kali terjadi sekitar satu jam hingga 90 menit setelah tertidur. Seiring bertambahnya usia, tidur REM kita semakin berkurang, dan fungsinya masih belum sepenuhnya jelas.

Beberapa mitos menyebut bahwa kita hanya bermimpi selama fase tidur REM. Padahal, mimpi tetap dapat terjadi pada setiap tahap tidur.

Sleep paralysis
Kelumpuhan tidur atau sleep paralysis yang banyak orang Indonesia sebut sebagai “rep-repan,” adalah ketidakmampuan untuk bergerak, yang terkadang terjadi dalam waktu singkat saat tertidur atau bangun.

Ini berarti pikiran sudah atau masih terjaga, tetapi operasional tubuh tertinggal di belakang selama satu atau dua menit.

Meski perasaan itu aneh dan bisa menakutkan, kelumpuhan tidur tidaklah berbahaya. Ini terjadi paling sering pada remaja, dan pada orang dengan masalah tidur lainnya, termasuk narkolepsi, sleep apnea, dan kram kaki di malam hari.

Ini juga lebih sering terjadi pada orang dengan stres pascatrauma atau gangguan panik akibat melihat atau mengalami sesuatu yang ia takuti.

Uniknya, pada saat-saat sleep paralysis, beberapa orang merasa bahwa mereka jatuh, melayang, atau mengalami “pengalaman keluar dari tubuh.”

Beberapa juga memberi pengakuan aneh-aneh. Seperti melihat kehadiran mahluk halus atau hantu di ruangannya, hingga diculik alien.

Adalah Mitos bahwa Orang Dewasa hanya membutuhkan Tidur 5 Jam atau Kurang

Kita semua pernah mendengar orang membual bahwa mereka tetap berfungsi sempurna dengan tidur lima jam atau kurang.

Padahal, kebiasaan itu dalam jangka panjang dapat terkait dengan obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga kecelakaan lalu lintas.

Dalam sebuah penelitian, mereka yang sering melakukan hal tersebut, tercatat mendapatkan hasil yang buruk pada tes objektif memori jangka pendek dan keterampilan motorik mereka.

Untuk bisa mendapatkan fungsi optimal, manula biasanya membutuhkan tujuh hingga delapan jam, dan orang dewasa lainnya membutuhkan tujuh hingga sembilan jam.

Sementara itu, remaja membutuhkan delapan hingga 10 jam, dan anak-anak yang lebih kecil membutuhkan lebih banyak lagi.

Begadang Mungkin Baik untuk Kesehatan Mental

Meskipun kurang tidur sepanjang malam membuat sebagian besar dari kita menjadi zombie, ada pengecualian, di mana beberapa orang merasa jauh lebih bahagia atau lebih tenang setelah begadang.

Itu mungkin terjadi karena penyetelan ulang jam tubuh mereka yang rusak, sebuah ide yang pertama kali dijelaskan dalam buku teks psikiatri Jerman tahun 1818.

Depresi atau gangguan bipolar hampir selalu melibatkan gangguan tidur, yang mungkin merupakan gejala atau pemicu.

Menurut psikiater Inggris David Veale, begadang selama 36 jam mengurangi gejala unmood pada sekitar setengah dari pasien.

Untuk mempertahankan keadaan ini, ia menetapkan jadwal tidur yang mengharuskan bangun dini hari selama beberapa hari berikutnya.

Setelah itu, mereka mungkin dapat mengikuti jadwal tidur yang lebih standar, yang terdukung oleh terapi cahaya.

Petani Abad Pertengahan Istirahat Lebih Baik daripada Kita

Cahaya buatan membuat tidur jauh lebih tidak menyenangkan. Kita mendapatkan terlalu sedikit sinar matahari dan terlalu banyak cahaya saat kita membutuhkan kegelapan.

Di Eropa abad pertengahan, tidak ada smartphone atau lampu samping yang bercahaya. Saat matahari terbenam, keluarga akan meniup lilin, lalu ‘membenamkan diri’ ke tumpukan kain lembut di satu ruangan.

Setelah kira-kira empat jam tidur, pada tengah malam, orang dewasa akan bangun untuk satu atau dua jam yang menyenangkan untuk berdoa, berhubungan seks, membaca, menulis, atau mengobrol, sebelum mereka tertidur kembali dan bangun saat subuh.

Itu rupanya ritme alami. Dalam sebuah percobaan di tahun 1990-an, di mana para peserta menjalani pola ini selama tiga minggu, para peneliti menemukan bahwa darah mereka mengandung prolaktin, hormon yang terlepas setelah orgasme, yang memberi kita “kebahagiaan.” Hebatnya ini bisa kita dapatkan tanpa seks, hanya dengan tidur saja.

Dalam penelitian ini, di samping delapan jam tidur, selingan yang menyenangkan sebelum tidur juga menjadi kunci dari keberhasilannya. Syaratnya hanya satu, hindari cahaya buatan. Termasuk dari TV, laptop, dan ponsel kamu.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top