Law

Kasus Pemerkosaan di Bawah Umur di Sumedang, Hukuman Apa yang Menanti?

Kejahatan anak. Credit photo: Metro.co.uk

Sayaajarkan – Awal Juli 2019 lalu kita dihebohkan dengan aksi lima pemuda di Sumedang yang nekat memperkosa seorang gadis di bawah umur.

Seperti dikutip dari Tribun, kelima pelaku kini sudah diamankan dan dijerat Pasal 81 Ayat 1 dan ayat (2) Undang-Undang No 17 Tahun 2016 tentang perlindungan anak, dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara. Empat pelaku yang diketahui juga masih di bawah umur sementara dititipkan ke rumah penitipan anak negara, Kabupaten Subang.

Menangani Tindak Kejahatan di Bawah Umur

Kejahatan bisa terjadi pada siapa saja. Pelakunya juga bisa siapa saja, entah laki-laki atau perempuan, mereka yang dikategorikan dewasa maupun yang masih tergolong anak anak.

Kita sudah sering saksikan di berbagai media anak-anak terlibat kasus kejahatan sebagai pelaku, entah dalam kasus bullying, tawuran, pemerkosaan bahkan hingga pembunuhan. Bagaimana menangani anak sebagai pelaku kejahatan? Samakah dengan orang dewasa? Kalau mau tahu, sini saya ajarkan.

Penanganan Tindak Kejahatan Anak

Menangani tindak kejahatan yang dilakukan orang dewasa berbeda dengan saat pelakunya anak-anak.

Hukum kita memberi batasan, yang masih disebut anak-anak adalah yang berusia di bawah 18 tahun. Mahkamah Konstitusi pada 2011 membuat keputusan batas bawah usia anak untuk bisa dimintai pertanggungjawaban hukum adalah 12 tahun.

Penetapan usia minimal 12 tahun sebagai ambang batas usia pertanggungjawaban hukum bagi anak telah diterima dalam praktik di berbagai negara.

Sementara itu, dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistim Peradilan Anak, maka hukuman dalam bentuk pemenjaraan terhadap Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) sudah tidak diberlakukan lagi seperti sebelumnya.

UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistim Peradilan Anak itu mewajibkan penggunaan dengan dua pendekatan utama dalam menghadapi kasus-kasus ABH, yakni keadilan restoratif dan diversi.

Keadilan restotatif ialah penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku serta korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan. Sedangkan diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

Penetapan usia minimal 12 tahun sebagai ambang batas usia pertanggungjawaban hukum bagi anak (di bawah umur) telah diterima dalam praktik di berbagai negara. Credit photo: Indopress

Hukuman Penjara = Efek Jera?

Pada dasarnya, hukuman penjara juga tidak selalu menimbulkan efek jera kepada para pelaku. Terlebih apabila pemenjaraan dilakukan tanpa proses dan metode pembinaan yang tepat dan benar. Karena faktanya kerap berlangsung residivisisasi di penjara, dimana seseorang kriminal menjadi penjahat kambuhan.

Penanganan ABH dalam UU Sistem Peradilan Anak juga dilaksanakan dengan berdasarkan beberapa asas, yakni perlindungan, keadilan, nondiskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, penghargaan terhadap pendapat anak, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak, pembinaan dan pembimbingan anak, proporsional, perampasan dan pemidanaan sebagai upaya terakhir, dan penghindaran pembalasan (Pasal 2).

Dari situ terlihat sistem ini menghindari pembalasan dan sanksi pidana penjara pada anak. Jika pun pelaku anak menjalani masa pidana di LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), maka hal itu diletakkan sebagai upaya terakhir. Bila misalnya tindak pidana itu ancamannya adalah hukuman mati atau seumur hidup, maka yang bisa dikenai pada ABH paling lama 10 tahun.

Anak sebagai pelaku dalam kasus tindakan kriminal sesungguhnya juga sebagai korban. Yakni korban dari salah asuh di lingkungan keluarga, salah didik atau salah metode di lingkungan pendidikan yang tidak meluhurkan, dan salah lingkungan sosial yang gagal menjadi arena pembentukan karakter mulia anak. (Ahmad Haidar/sumber: watyutink)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top