Technology

NFT Pertama Indonesia, Etherwaifu: Terjual dengan Harga Fantastis!

Etherwaifu

SayaAjarkan – Etherwaifu, NFT Pertama Indonesia raih pendapatan fantastis. Hasil kolaborasi dua orang Bandung, Agro (fotografer, software engineer) dan Jubi (Ilustrator), sukses menjual habis 1025 lukisan digitalnya dengan total sales yang mencapai USD 2,3 juta atau sekitar Rp 33 miliar.

Etherwaifu adalah NFT Pertama asal Indonesia. Produk ini dikembangkan di Jepang dan rilis pada 24 Maret 2018, di saat tren NFT belum se-booming sekarang.

“Kami rilis di bulan Maret 2018, dan kita juga sempat diberitakan di beberapa media berbahasa indonesia, salah satunya Japanese Station. Saat itu Kami rilis 1025 NFT dengan harga per itemnya sebesar Rp 50 ribu rupiah,” ujar Agro.

Perjuangan Etherwaifu

Agro menegaskan, langkah Etherwaifu tidaklah mudah. Karena pada tahun itu market Kripto sedang down, Etherwaifu sempat hanya terjual sekitar 55 unit saja. Project ini juga sempat mengalami failure financial, terutama saat tidak adanya produk yang terjual di 2019 dan 2020.

“Kita terus berusaha membangun dan mengembangkan softwarenya, tapi setelah 55 unit itu, belum ada pembeli lagi. Di tahun 2019 salesnya nol, tak ada yang membeli sama sekali. Tahun 2020 juga juga sama. 2 tahun berturut-turut tidak ada aktivitas ekonomi sama sekali.” 

Padahal, secara teknologi, Etherwaifu tergolong cutting edge di antara NFT yang rilis di 2018. Secara art, Etherwaifu juga lebih maju ketimbang NFT-NFT lainnya pada tahun tersebut.

“Kebanyakan NFT zaman dulu simple-simple, seperti pixel art, sementara kami lebih ke arah seperti lukisan.”

Gebrakan di 2021

Memasuki 2021, NFT mulai booming, dari yang hanya akrab di kalangan penyuka kripto, kini merambah ke kalangan mainstream. 

Di tahun itu pula, seorang arkeolog NFT, Adam McBride, menulis artikel tentang Etherwaifu. Artikel itu ia buat setelah menemukan Etherwaifu yang programnya masih hidup di blockchain dan merasa kagum dengan teknologinya. 

Adam merupakan salah satu anggota dari komunitas Historical NFT Collector. Salah satu kegiatan dari komunitas tersebut adalah mencari NFT-NFT bersejarah di blockchain yang rilis sekitar tahun 2017 dan 2018. 

Dalam artikelnya, Adam menyebut bahwa di 2018, ada NFT Historical bernama Etherwaifu, yang dari segi gambar jauh lebih maju dari NFT-NFT lain di tahun tersebut.

“Apalagi, Etherwaifu memiliki fitur bernama crafting, yang mana jika seseorang memiliki dua Etherwaifu, ia bisa crafting untuk membuat satu Etherwaifu (anaknya). Nanti, hasil gambarnya akan mengambil sifat-sifat orang tuanya. Jadi dari sisi crafting, itu secara teknologi sudah maju banget di 2018, ada sisi gamingnya juga soalnya,” terang Agro.

Tak lama setelah artikel itu beredar, semua produk Etherwaifu dengan cepat terjual ludes, dan mencetak total penghasilan yang fantastis.

“Karena cuma ada 1025 NFT, orang-orang di 2021 langsung pada menyerbu.  Akhirnya kami sold out di tahun 2021. dan hasil total salesnya, including secondary sales di opensea, mencapai USD 2,3 juta atau sekitar Rp 33 miliar. Kami bersyukur banget, dulu kan harganya Rp 50 ribu, sekarang kalau mencari Etherwaifu di marketplace, harganya bisa Rp 15 jutaan, itu yang paling murah.”

Latar belakang terciptanya Etherwaifu

Nama Etherwaifu terbilang unik. Inspirasinya datang dari istilah di dunia anime, yang secara tak langsung juga mempresentasikan ke-1025 NFT yang keduanya miliki.

“Kata ‘ether’ dari blockchain ethereum, kalau kata ‘waifu’nya dari istilah di dunia anime, di mana karakter cewek yang cute biasa disebut waifu, dan kebetulan, pembuat ilustratornya, Jubi adalah spesialis gambar karakter waifu.” Ujar Agro.

Ketertarikan Agro terhadap NFT sendiri muncul di tahun 2017, ketika beberapa proyek NFT mulai muncul di Blockchain Ethereum. Agro kemudian mempelajari programnya yang kebetulan di-set sebagai open source.

“Saya sendiri kan basic-nya programming dan seni  Saya kuliahnya itu ilmu komputer, tapi saya juga beraktivitas sebagai photografer di jepang. Di waktu itu, saya memang sudah memiliki ketertarikan pada bidang teknologi, dan juga blockchain. Ketika NFT muncul, saya langsung tertarik, karena kalau kita publish karya seni di blockchain sebagai NFT, karya itu bakal exist forever,” terangnya.

Dalam mengerjakan Etherwaifu, Agro berkolaborasi dengan ilustrator dari bandung, Jubi. Kebetulan, keduanya sudah sempat berkolaborasi dalam sebuah pameran seni di Jepang. Setelah sepakat, keduanya lalu membuat NFT dari nol, hingga tercapai 1025 item.

“Jadi kita mulai develop NFT dari nol. Kalau sekarang kan tools-nya memang sudah ada, tapi kalau di 2017, semua itu belum ada, jadi betul-betul harus bikin programnya dari nol.”

Kini, seiring dengan kesuksesan dan diterimanya Etherwaifu, Agro dan Jubi percaya, jika anak-anak bangsa mampu menghasilkan karya yang setara dan bahkan lebih baik dari negara lain.

Sehingga kelak, Indonesia akan mampu mengembangkan IP yang mendunia, seperti Jepang dengan Doraemonnya, atau Walt Disney dengan Mickey Mousenya.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top